Kupi Beungoh
Kisah Nja’ Ali, Jago Bedah Lintas Zaman
emaja Gampong Peulanggahan, Banda Aceh ini diterima sebagai Helper Burger Zieken Venpleger Bijzender Bembte (asisten perawat pasien umum) yang bekerja
Sebagai informasi, saat ini bangunan RSMHB telah menjadi aset RS Tingkat II Iskandar Muda yang lebih dikenal dengan RS Kesdam.
Sedangkan RSU-nya, sejak 1979 berganti nama menjadi RSUD dr Zainoel Abidin dan pindah ke lokasi saat ini di Gampong Bandar Baru (Lampriet), Kuta Alam, Banda Aceh.
Baca juga: Senator Aceh H Sudirman: Masalah Tukin Dosen ASN, Ini Darurat, Harus Segera Diselesaikan
Apresisasi atas Dedikasi
Dedikasi Ali dalam bekerja mendapat apresiasi dari dokter bedah Belanda maupun dokter pribumi.
WJ Van Ramshorst, dokter bedah kandungan, dalam pernyataannya tertanggal 1 Mei 1929 menulis, “Ali bangsa Aceh, selama kurun waktu Mei 1928 sampai Mei 1929, telah bekerja di ruang bedah, sangat menyenangkan saya.
Saat berpuluh kali melakukan bedah besar, ia mampu menguasai peralatan secara mandiri dan bekerja dengan tenang, sopan dan dapat dipercaya.
Orangnya tampan dan sehat, bersamanya kegiatan pembedahan semakin menyenangkan”.
Apresiasi senada juga diutarakan dua ahli bedah dan ginekolog Belanda lainnya, L Elsbach (Agustus 1934) dan CR Ritsema Van Eck (19 Agustus 1939), serta beberapa dokter spesialis Belanda lainnya.
Semua testimoni yang ditulis secara pribadi ini masih terdokumentasikan dengan baik dalam arsip milik anak kelima Ali, Mohd Amin.
Sepeninggal Amin, semua arsip terkait Ali tersimpan dalam perpustakaan mini milik anak ketiga Amin, Nurchaili.
Sementara Majoedin, dokter umum yang juga harus berperan sebagai dokter bedah mengatakan, “Untunglah saya telah mahir menjalankan pembedahan dengan bantuan besar dari mantri (perawat-pen.) kamar bedah Ali, yang sekarang, setelah pensiun dan masih bekerja di Banda Aceh”.
Pernyataan ini ditulisnya dalam buku ‘Bunga Rampai tentang Aceh’, yang diterbitkan Bhratara Karya Aksara Jakarta, 1980.
Selain apresiasi dan penghargaan yang diutarakan secara pribadi, Ali juga mendapatkan penghargaan Tri Dasa Warsa Satiya dan Penghargaan dari Menteri Kesehatan RI atas jasa-jasa dan pengandiaanya selama 25 tahun tanpa terputus (1978).
Sebelumnya pada awal kemerdekaan (1946), ia juga mendapat penghargaan dari Markas Daerah Pesindo Aceh atas jasa-jasanya dalam memberikan pertolongan medis kepada prajurit yang terluka saat perang Cumbok yang berlangsung di wilayah Pidie.
Ali menghembuskan napas terakhir pada tanggal 11 Agustus 1987 dalam usia 90 tahun.
Enam tahun setelah ia mengundurkan diri dalam usia 84 tahun karena faktor kesehatan.
Ali dikebumikan di Komplek Pemakaman Umum Masjid Tgk Dianjong, Gampong Peulanggahan, Banda Aceh.
Demikian sekelumit kisah Nja’ Ali, sang jago bedah lintas zaman yang telah berbakti kepada nusa dan bangsa selama 68 tahun tiada henti.
Prestasi kerja ini tentu menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia kesehatan Indonesia, khususnya Aceh. Karenanya Nja’ Ali layak disebut sebagai pahlawan kesehatan Aceh.
*) PENULIS adalah Alumnus Universitas Syiah Kuala, peminat literasi sejarah Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
| Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi |
|
|---|
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
| Asap Rokok di Momen Lebaran: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ginjal Keluarga |
|
|---|
| Triliunan Harta di Bawah Tanah Aceh jatuh ke Jaringan Kejahatan |
|
|---|
| Rumput, Angin dan Cerita dari Savana Indrapuri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kisah-Nja-Ali-Jago-Bedah-Lintas-Zaman.jpg)