Kupi Beungoh
Gaza, Hiroshima, dan “Kegilaan” Donald Trump – Bagian I
Tanpa Trump memulai Riviera pun sebenarnya realitas hari ini, Gaza adalah neraka dunia terhebat dalam sejarah.
Ada sekitar 2,17 juta di Gaza, 3,19 juta di Tepi Barat, dan di Israel sendiri tidak kurang dari 2 juta Palestina tinggal dan hidup.
Tanpa Trump memulai Riviera pun sebenarnya realitas hari ini, Gaza adalah neraka dunia terhebat dalam sejarah.
Secara angka pemusnahan manusia, Gaza melampaui Hiroshima.
Jumlah bom yang dijatuhkan oleh Israel lebih dari 25.000 ton.
Sementara Hiroshima pada tahun 1945, AS hanya menjatuhkan 15.000 tin bom.
Euro-Med Human Rights Monitor (2025) bahkan berani mengklaim bahwa kekuatan eksplosif bom yang dijatuhkan Israel di Gaza, sekitar dua kali bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima.
Setelah dihajar dengan berbagai serangan, baik untuk militer maupun sipil Palestina di Gaza, sudah surutkah semangat rakyat Palestina.
Apakah dengan kematian 50.000 warga sipil dan militer mereka mati mereka akan berhenti dan menyerah?
Jawabannya tidak, bahkan tentara Israel tak pernah mampu menaklukkan dan menguasai sepenuhnya kawasan Gaza.
Baca juga: 100 Hari Prabowo: Puisi vs Prosa, Bagian : III
Kemenangan Bersama atau Kekalahan Israel?
Bibit dan ruang perlawanan terhadap pendudukan Israel di Gaza akan berjalan sepanjang masa, sejauh warga Palestina masih menempati wilayah itu.
Dan kini, ketika seorang Donald Trump, menawarkan sebuah resep baru yang 200 persen lebih hebat dari gagasan Netanyahu dan sekutunya partai ekstrim kanan di Parlemen Israel, akankah itu diterima atau terjadi?
Pertama, hampir semua negara berakal sehat tidak dapat menerima gagasan Trump.
Bahkan mayoritas negara-negara Uni Eropa terang-terangan menolak.
Lupakan kelompok negara yang dekat dengan China maupun Rusia yang pasti menentang keras.
Kedua, di kalangan negara Arab, sekutu terdekat AS seperti Mesir, Yordania, Saudi Arabia, UAE, dan Qatar, bahkan menentang secara terbuka ide Trump itu.
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framing Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)