Kupi Beungoh
Gaza, Hiroshima, dan “Kegilaan” Donald Trump – Bagian I
Tanpa Trump memulai Riviera pun sebenarnya realitas hari ini, Gaza adalah neraka dunia terhebat dalam sejarah.
Jika saja Mesir, Saudi Arabia, dan Jordan bersikukuh untuk tidak menerima proposal Trump, hampir dapat dipastikan rencana itu akan gagal.
Ide Trump untuk membangun kembali Gaza setelah “memindahkan” semua warganya dari wilayah itu mendapat sorotan dan peringatan keras Antonio Guterrez, Sekretaris Jenderal PBB.
Ia bahkan menggunakan istilah “pembersihan etnis” sebuah istilah kriminal terhadap pemaksaan atau pemindahan paksa yang merupakan kejahatan kemanusiaan berdasarkan konvensi Jenewa.
Banyak pihak yang melihat kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan antara Israel dan Hamas di Gaza pada awal Januari tahun sebagai sebuah kemenangan bersama.
Padahal jika dilihat dari “definisi menang” rencana militer Israel setelah serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke wilayah Israel, posisi Israel justru kalah.
Menang Israel didefiniskan dalam “buku saku” perang Gaza adalah bahwa Israel mengalahkan Hamas, dan menguasai sepenuhnya jalur Gaza.
Kenyataannya walaupun kematian para pemimpin Hamas berlanjut, pemimpin Hamas yang baru tetap saja muncul.
Perlawanan terus berjalan.
Israel tak pernah berhasil menguasai Gaza secara total.
Sebaliknya Hamas tetap berkuasa.
Ini adalah bukti telak Hamas menang, karena mereka memerintah Gaza.
Akhirnya dengan mereka pula Israel bersepakat.
Tanpa harus merinci tuntas, dalam hal Gaza, Israel dengan segala kecanggihan militernya, mengakui eksitensi Hamas, baik sebagai kekuatan perlawanan militer, maupun pemerintahan, dalam perjanjian gencatan senjata itu.
Pelajaran besar yang dapat dipetik oleh Israel dan berbagai negara adik kuasa adalah Israel tak akan pernah bisa mengakhiri perlawanan Palestina, terutama Hamas.
DNA jutaan manusia Palestina-terutama Hamas, adalah “gagasan perlawanan” yang tidak boleh mati.
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framing Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)