Selasa, 21 April 2026

Jurnalisme Warga

Olahraga Tradisional Aceh di Ambang Kepunahan, Siapa yang Akan Selamatkan?

Olahraga-olahraga ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari warisan leluhur yang menyimpan filosofi kehidupan: keberanian, sportivitas, ke

Editor: mufti
IST
DEDI SAPUTRA, M.Pd.,  Wakil Dekan FKIP dan Dosen Prodi Pendidikan Jasmani Uniki, serta Anggota FAMe  Chapter Uniki, melaporkan dari Bireuen 

Tantangan terbesar

Tantangan terbesar dalam pelestarian olahraga tradisional bukan hanya sekadar mengenalkannya kembali kepada generasi muda, melainkan juga menghidupkannya di tengah masyarakat.

Untuk itu, kolaborasi dengan sekolah-sekolah dan pemerintah daerah menjadi langkah berikutnya. Dengan adanya kerja sama ini, olahraga tradisional dapat kembali diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan jasmani.

Tak kalah pentingnya, Uniki juga mendorong riset dan dokumentasi mengenai olahraga tradisional Aceh. Banyak permainan yang dahulu populer kini sudah jarang terdengar namanya, bahkan sebagian aturannya mulai terlupakan.

Dengan melakukan penelitian yang serius, aturan dan teknik permainan ini bisa kembali dibukukan, diajarkan, dan dipromosikan ke masyarakat luas melalui berbagai media, termasuk media digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.

Di era digital ini, media sosial bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk memopulerkan kembali olahraga tradisional. Video pendek yang menampilkan keseruan bermain 'cakbur', aksi tangguh dalam 'geudeu-geudeu', atau kecepatan dalam pacu perahu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda.

Jika dikemas dengan kreatif, bukan tidak mungkin olahraga tradisional bisa kembali mendapat tempat di hati masyarakat. Kita berkaca di beberapa daerah di luar Aceh, permainan-permainan seperti ini masih menjadi andalan dan kebanggaan masyarakatnya, bahkan menjadi olahraga yang dipertandingkan pada skala nasional.

Membangun  kebanggaan budaya

Pelestarian olahraga tradisional bukan sekadar tentang mempertahankan permainan lama, melainkan  juga tentang menjaga identitas dan kebanggaan budaya.

Melalui Penjas Uniki, para mahasiswa tidak hanya dibekali dengan keterampilan dalam olahraga modern, tetapi juga diajarkan untuk memahami betapa pentingnya menjaga warisan nenek moyang (endatu).

Ketika seorang guru olahraga yang merupakan lulusan Uniki memperkenalkan bola 'leupee' kepada murid-muridnya, ia tidak hanya mengajarkan permainan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai budaya. Saat seorang mahasiswa mendokumentasikan dan memopulerkan kembali 'meurupok', ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar riset akademik: ia sedang menyelamatkan sejarah.

Masyarakat Aceh harus menyadari bahwa budaya yang tidak dijaga akan hilang. Jika olahraga tradisional ini tidak lagi dimainkan, maka ia akan lenyap, digantikan oleh budaya asing yang belum tentu memiliki nilai sekuat yang telah diwariskan oleh leluhur kita.

Kini, saatnya bertindak. Pendidikan Jasmani Uniki telah memulai langkah nyata dalam melestarikan olahraga tradisional Aceh. Namun, pelestarian ini bukan hanya tanggung jawab akademisi, melainkan tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat yang mencintai budayanya.

Mari kembali ke lapangan. Mari hidupkan kembali permainan yang dahulu menjadi kebanggaan kita. Mari wariskan semangat dan kebersamaan yang terkandung dalam olahraga tradisional Aceh kepada generasi mendatang. Sebab, dengan melestarikan olahraga ini, kita sedang menjaga jati diri kita sebagai orang Aceh, sebagai bangsa yang tak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kaya dalam budaya dan nilai-nilai kehidupan.

Namun, pelestarian olahraga tradisional Aceh bukan hanya tentang mempertahankan sebuah permainan, tetapi juga membangun karakter dan memperkuat jati diri generasi muda. Di dalam setiap gerakan 'geudeu-geudeu', ada keteguhan dan strategi; dalam setiap kayuhan pacu perahu, ada kerja keras dan kebersamaan; dalam setiap tawa yang terdengar saat bermain  'cakbur', ada kebahagiaan dan solidaritas.

Penjas Uniki memahami bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga wahana pembelajaran nilai-nilai kehidupan.

Dengan terus mengembangkan inisiatif pelestarian ini, Uniki tidak hanya menjaga warisan budaya Aceh tetap hidup, tetapi juga membentuk generasi yang lebih sadar akan akar budayanya. 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved