Kupi Beungoh
Wakaf tak Cukup Dilestarikan - Ia Harus Dihidupkan!
Dalam literatur klasik, wakaf diartikan sebagai tindakan menahan pokok harta dan mendistribusikan hasilnya untuk tujuan sosial yang diridhai Allah.
Kita membutuhkan keberanian intelektual dan keteguhan moral untuk mentransformasikan wakaf dari simbol kesalehan pasif menjadi instrumen perubahan sosial yang aktif, terukur, dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, keberkahan wakaf tidak terletak pada apa yang dibekukan, tetapi pada apa yang terus dihidupkan dan menghidupkan.
Baca juga: Harta Wakaf Harus Dikelola Profesional, Nazir Didorong Kreatif dan Berjiwa Entrepreneurship
Fiqh Dinamis: Membuka Ruang Ijtihad dalam Tata Kelola Wakaf
Dalam sejarah Islam, praktik wakaf berkembang melalui ijtihad yang kontekstual. Umar bin Khattab mewakafkan tanah di Khaibar, tetapi mewasiatkan agar hasilnya digunakan untuk fakir miskin, kerabat, dan ibnu sabil.
Khalifah Umar II membentuk badan wakaf negara.
Dalam sejarah Kekhalifahan Ottoman, wakaf bahkan digunakan untuk membiayai universitas, rumah sakit, dan jalan raya.
Kini, banyak ulama kontemporer seperti Sheikh Yusuf al-Qaradawi dan Ali Jum'ah mengafirmasi wakaf uang, wakaf saham, dan bahkan wakaf berbasis teknologi.
Hal ini menunjukkan bahwa fiqh wakaf bersifat dinamis dan dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman, asalkan tetap berlandaskan pada prinsip dasar syariah.
Pertanyaan mendasarnya: mengapa sebagian kalangan di Indonesia masih terjebak pada pembacaan tekstual yang rigid terhadap wakaf?
Mengapa kehati-hatian dalam menjaga aset justru membuat manfaat sosialnya terhambat?
Ijtihad baru sangat dibutuhkan, terutama untuk merespons fenomena urbanisasi, ketimpangan ekonomi, dan disrupsi digital.
Tanpa keberanian untuk melakukan pembacaan baru atas teks lama, wakaf akan tertinggal dari dinamika zaman.
Membangun Ekosistem Wakaf: Kolaborasi, Literasi, dan Kepemimpinan Intelektual
Transformasi wakaf dari instrumen spiritual menjadi kekuatan strategis pembangunan tidak akan pernah berhasil tanpa ekosistem yang sehat dan kolaboratif.
Wakaf produktif bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan buah dari sinergi lintas sektor yang terstruktur dan berkesinambungan.
Dalam konteks ini, ada tiga pilar utama yang harus dibangun secara simultan:
Pertama, Kolaborasi Multipihak : Menyatukan Visi, Mengintegrasikan Peran
Ekosistem wakaf yang tangguh hanya dapat tumbuh jika seluruh pemangku kepentingan--wakif, nazhir, akademisi, regulator, sektor swasta, dan masyarakat sipil--berjalan dalam satu visi: menjadikan wakaf sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi ini tidak bersifat simbolik, tetapi strategis: membentuk konsorsium wakaf, kemitraan investasi sosial, dan forum lintas keilmuan yang mempertemukan fikih, ekonomi, dan teknologi dalam satu meja desain kebijakan.
Kedua, Literasi Publik: Dari Amal Jariyah ke Arsitektur Keadilan Sosial
Salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan wakaf produktif adalah rendahnya literasi publik.
Wakaf masih dipersepsikan sebagai amal jariyah yang bersifat pasif dan ritualistik.
Padahal, dalam sejarah Islam, wakaf adalah instrumen distribusi kekayaan, penguatan kelas menengah, dan penggerak peradaban.
Literasi baru harus dibangun--yang tidak hanya menjelaskan hukum wakaf, tetapi juga memperkenalkan konsep impact investing, social return, dan sustainable development dalam kerangka syariah.
Ketiga, Kepemimpinan Intelektual: Dari Menara Gading ke Arena Aksi
Perubahan paradigma membutuhkan kepemimpinan intelektual yang berani keluar dari zona nyaman.
Para akademisi, ulama, dan pakar fikih kontemporer harus hadir di ruang-ruang strategis: merumuskan kebijakan publik, mendampingi proyek wakaf sosial, dan mengadvokasi regulasi yang progresif.
Fikih tidak cukup hanya diajarkan di ruang kuliah--ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan, model bisnis, dan solusi nyata bagi problem sosial-ekonomi umat.
Penutup dan Harapan
Di tengah dunia yang terus mencari keseimbangan antara akumulasi dan distribusi, Islam menghadirkan wakaf sebagai jalan tengah yang visioner--sebuah sistem yang menahan kepemilikan demi mengalirkan manfaat.
Ia bukan milik pribadi yang dibekukan, bukan pula milik publik yang kehilangan arah.
Wakaf adalah ruang etis antara hak dan maslahat, antara bentuk yang dijaga dan nilai yang terus bergerak.
Namun, melestarikan wakaf saja tidak cukup.
Menjaganya dalam bentuk fisik tanpa menghidupkan fungsinya hanya akan menjadikannya simbol yang hampa.
Wakaf harus dihidupkan--dikelola dengan visi, ditata dengan strategi, dan diarahkan untuk menjawab tantangan zaman: ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan struktural.
Transformasi dari “aset abadi” menuju “manfaat berkelanjutan” bukan sekadar perubahan teknis, melainkan reposisi nilai.
Wakaf yang sejati bukan yang dipamerkan dalam prasasti, tetapi yang berdetak dalam kehidupan: dalam akses pendidikan, layanan kesehatan, teknologi sosial, dan pemberdayaan ekonomi yang nyata.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “apa bentuk wakafnya?”, melainkan: “apa dampaknya bagi masa depan umat dan keadilan sosial?”
Karena Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi arsitektur peradaban--dan wakaf adalah salah satu pilar strategisnya.
Ia bukan sekadar amal jariyah, tetapi mekanisme distribusi yang adil tanpa mematikan produktivitas.
Di tengah krisis global hari ini, saat dunia kehabisan model yang adil dan berkelanjutan, mungkin inilah saatnya wakaf mengambil kembali panggung peradaban.
Dan jika kita percaya bahwa wakaf bisa menjadi solusi, maka pertanyaannya bukan lagi: “dapatkah ia dihidupkan?”melainkan: “mengapa kita masih membiarkannya diam?”
*) PENULIS adalah Dosen Tetap Pada Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe. Nazhir pada Lembaga Wakaf Gen Cahaya Peradaban Lhokseumawe.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dosen-Pada-Magister-Keuangan-Islam-Terapan-PNL.jpg)