Kupi Beungoh

Dibalik Triliunan Potensi Cadangan Migas, Ekonomi Aceh Masih Lesu

Kementerian ESDM menegaskan “potensi sumber daya migas di perairan Aceh masih menjanjikan” dan perlu terus dieksplorasi.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Guru Besar Bidang Geologi Kelautan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si. 

Secara ekonomi, harga minyak dan gas yang berfluktuasi dan tingginya biaya investasi hulu migas (capex & opex) menuntut efisiensi tinggi.

Keterbatasan infrastruktur (pipa gas, kilang) dan persaingan dengan sumber energi alternatif dapat menghambat investasi dan output ekonomi jangka pendek.

Peran BPMA dan Hubungannya dengan SKK Migas

Berdasarkan PP No. 23/2015 (implementasi UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh), BPMA dibentuk (dilantik 2016) sebagai badan bersama Aceh–ESDM yang bertugas pengelolaan hulu migas Aceh.

BPMA berkantor di Banda Aceh di bawah Kementerian ESDM dan Gubernur Aceh, fokus pada pengendalian KKKS agar migas Aceh dimanfaatkan maksimal utnuk kepentingan daerah Aceh.

Sejak Kepala BPMA pertama dilantik (April 2016), hak, kewajiban, dan konsekuensi dari kontrak KKKS Aceh dialihkan dari SKK Migas ke BPMA.

Artinya, BPMA kini mengkoordinasikan pelaksanaan proyek migas di Aceh (0 – 12 mil laut).

Dalam praktiknya, BPMA dan SKK Migas harus bersinergi: BPMA mengawasi aspek pemerintahan daerah, sedangkan SKK Migas mengelola aspek teknis dan regulasi hulu nasional.

Koordinasi kuat BPMA-KKKS juga diakui akan meningkatkan produksi Aceh.

Kepala BPMA menyatakan pencapaian 2023 tidak lepas dari koordinasi dan sinergisitas antara BPMA sebagai regulator lokal dengan KKKS operator.

Hubungan pusat-daerah ini dibutuhkan untuk menyelesaikan isu teknis (misal pembaruan kebijakan) dan mempermudah investasi di Aceh.

Aceh memiliki sejumlah peluang peningkatan produksi jangka menengah hingga jangka panjang.

Blok eksplorasi lepas pantai seperti Offshore North West Aceh (Meulaboh) yang dikelola Conrad, ONWA Pte. Ltd dan Offshore South West Aceh (Singkil) yang dikelola Conrad, OSWA Pte. Ltd serta WK Arakundo membuktikan peluang tersebut.

Keberadaan perusahaan global seperti Mubadala (Andaman I), Premier Oil (Andaman II), dan Repsol (Andaman III) menunjukkan minat investor besar.

Sumber gas dari Aceh juga menjanjikan untuk pasar domestik dan ekspor, misalnya jalur ke Thailand dimungkinkan jika cadangan Andaman terbukti besar.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved