Kupi Beungoh
Rakyat, Qurban, dan Pemimpin: Menyembelih Ego, Menyulam Cinta
perayaan Idul Adha terasa lebih bermakna bagi rakyat Aceh, yang baru saja menatap lembaran baru dengan hadirnya pemimpin-pemimpin baru
Pemimpin yang hadir bukan untuk diri sendiri, tapi untuk semua.
Di tengah jalanan Banda Aceh yang sibuk, di pasar Paya Ilang di Takengon, di pedalaman Meungamat Aceh Selatan, desa-desa Biak Muli, Bambel Aceh Tenggara yang penuh warna, di TPI Idi Aceh Timur, dan Kuala Bubon Aceh Barat yang menatap laut lepas, rakyat menunggu tanda.
Mereka menunggu pemimpin yang tak hanya pandai berkata, tapi juga pandai menepati.
Yang mengerti bahwa janji adalah hutang nurani.
Yang tahu bahwa kekuasaan bukan hak, melainkan amanah.
Yang memahami bahwa rakyat bukan angka dalam kotak suara, tapi manusia yang butuh perhatian, butuh keadilan.
Qurban datang setiap tahun sebagai pengingat: memberi bukan soal besar atau kecil, tapi soal ketulusan.
Pemimpin yang baik bukan yang membagi daging setahun sekali, tapi yang membagi keadilan sepanjang tahun.
Yang hadir bukan hanya di depan kamera, tapi juga di balik layar kehidupan rakyat.
Yang mengerti bahwa membagi bukan untuk dipuji, tapi karena cinta.
Aceh hari ini berdiri di persimpangan: antara modernitas yang menggoda dan tradisi yang mengakar.
Antara cita-cita besar dan kenyataan yang kadang mengecewakan.
Di tengah itu, qurban datang mengajarkan kesejatian: bahwa pengabdian adalah jalan sunyi, jalan yang tak selalu disambut tepuk tangan.
Bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani kehilangan, berani melepas, berani menyembelih ego demi cinta.
Di bawah langit Aceh yang biru, di antara kubah masjid yang menjulang dan rumah-rumah panggung yang bersahaja, qurban berbisik pada kita: “Beranikah engkau menjadi pemimpin yang menunduk? Yang hadir bukan untuk dipuja, tapi untuk mengabdi? Yang mampu menyulam cinta, bukan hanya janji?”
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.