Kupi Beungoh
AS Bom Iran: Yom Kipur 2 atau Awal Perang Dunia 3? – Bagian I
Kalau itu benar, serangan ini justru bisa membuat Iran berpikir bahwa mereka harus membuat bom nuklir segera untuk melindungi diri.
Waktu itu, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel di hari suci Yom Kipur untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dicaplok dalam perang 1967.
Awalnya mereka sempat unggul dan mengejutkan Israel.
Namun Amerika segera turun tangan mendukung sekutunya itu, menyediakan bantuan senjata dan intelijen hingga situasi berbalik.
Perang itu berujung pada krisis minyak global, ketika negara-negara Arab memboikot penjualan minyak ke Barat dan membuat harga energi melonjak tajam di seluruh dunia.
Yom Kipur menjadi contoh nyata bahwa perang di Timur Tengah mudah meluas dan melibatkan kekuatan-kekuatan besar.
Selain korban jiwa dan kehancuran, harga minyak melonjak hingga menyebabkan resesi di banyak negara.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan tersebut bukan hanya soal dua pihak yang berperang, tetapi bisa menyeret banyak aktor global dan melahirkan perubahan peta politik dan ekonomi dunia.
Hari ini, ketika Amerika dan Iran berhadap-hadapan, banyak pengamat melihat kejadian Yom Kipur berulang dengan sangat kasar dan kotor.
Iran melancarkan pembalasan dan melibatkan banyak milisi proksi mereka di berbagai negara tetangga Israel.
Jika Amerika tetap teguh di belakang Israel, skenario seperti Yom Kipur tidak hanya berulang, namun akan membuat eskalasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Bedanya, kali ini Iran sudah memiliki kemampuan rudal jarak jauh dan jaringan proksi bersenjata di banyak negara, sehingga konflik bisa lebih cepat menjalar.
Selain itu, ketergantungan global terhadap energi membuat risiko inflasi dan krisis ekonomi bisa lebih besar dibanding 1973.
Baca juga: AS Kecele, Iran Berhasil Selamatkan Uranium yang Diperkaya ke Lokasi Rahasia sebelum Dibom
Berdiri di Tepi Jurang
Pada akhirnya, banyak media dan analis melihat bahwa dunia kini seperti berdiri di tepi jurang.
Keputusan dan langkah selanjutnya dari para pemimpin bisa menentukan apakah perang akan meluas menjadi bencana global atau bisa dicegah lewat negosiasi.
Di sisi lain, beberapa editorial di berbagai media utama internasional mengingatkan bahwa PBB, Uni Eropa, dan negara-negara netral harus segera turun tangan.
Jika mereka bisa menekan dan menawarkan jalur diplomatik, Iran dan Amerika bisa saja mau berunding dan meredakan ketegangan.
Namun peluangnya semakin kecil kalau masing-masing pihak hanya ingin menunjukkan kekuatan terlebih dahulu.
Pada akhirnya, serangan Amerika ke nuklir Iran bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari babak baru ketidakpastian.
Fakta di lapangan menunjukkan nuklir Iran tidak bisa begitu saja dimusnahkan.
Perasaan dan emosi publik banyak yang semakin cemas dan marah.
Semua analis dan media internasional sepakat bahwa masa depan konflik ini bergantung pada apakah para pemimpin mau bersikap bijak atau justru makin bersikeras.
Seperti kata mantan Menteri Pertahanan Amerika, James Mattis, perang tidak akan berakhir hanya karena satu pihak merasa menang.
Perang baru benar-benar berakhir kalau semua mau menghentikannya.
Trump boleh saja merayakan serangan ini. Tapi banyak media--dari The Guardian, The Financial Times, hingga Al Jazeera-- mengingatkan bahwa biaya dan risiko dari perang ini terlalu besar.
Jika dibiarkan meluas, harga yang harus dibayar bisa lebih mahal dari perkiraan siapa pun.
Kini dunia berada di persimpangan jalan.
Mau menuju perang lebih besar dan panjang? Atau mau menahan diri dan mencari cara damai?
Jawaban itu bukan hanya di tangan Washington dan Teheran, tapi juga seluruh komunitas internasional.
Semua harus sadar bahwa bom bukan solusi abadi, dan bahwa ketenangan dunia jauh lebih berharga daripada kemenangan semu di medan perang.
Satu hal yang tak boleh dilupakan, di balik semua ini ada kepentingan politik di Amerika sendiri.
Kongres dan Senatnya secara bipartisan mendukung Israel dan hampir pasti merestui langkah-langkah Trump.
Bagi Amerika, Timur Tengah bukan soal moral dan kemanusiaan, melainkan soal mempertahankan hegemoni dan menjaga kepentingan strategisnya.
Tidak bisa dilupakan pula bahwa Trump sejak dulu pro-Israel, bahkan pada periode pertamanya ia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar AS dipindahkan ke kota itu pada 2017.
Menantunya sendiri--Jared Kushner, yang berdarah Yahudi-- dulu berperan sebagai penasihat utama soal Timur Tengah di Gedung Putih.
Hari ini, semua yang terjadi membuat banyak orang melihat bahwa keputusan AS menyerang Iran bukan sekadar soal keamanan, tetapi bagian dari agenda lama untuk menegaskan dominasi Amerika dan Israel di kawasan.
Jika logika seperti ini terus berlanjut, maka perang bukan lagi soal siapa yang benar, tetapi siapa yang bisa memaksakan kehendaknya, dan dunia hanya bisa menonton harga mahal yang harus dibayar di masa depan. (bersambug)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.