Rabu, 29 April 2026

Kupi Bengoh

Banjir, Nabi Yunus As dan Perang Uhud

Kejadian bencana ini mengingatkan kita khususnya yang di Aceh dengan peristiwa tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng, Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh dan Peserta DiklatTaplai LEMHANAS Email : 

Sebagai warga masyarakat, tentunya kita juga harus memberikan dukungan penuh dan doa kepada para pemimpin kita yang sudah berjuang dengan tulus tanpa mengenal lelah untuk membantu dan hadir ditengah rakyat yang lagi musibah.

Kita harus rapatkan barisan dan mengikuti komando pemimpin didalam berjuang dan menyelesikan semua persoalan. Kalau kita bercerai berai maka tujuan untuk memperbaiki kondisi pasca bencana ini mungkin akan jauh lebih buruk dan kita bisa saling menyalahkan sesama kita. Ini harus kita hindari.

Keluar dari garis komando pimpinan, juga sudah pernah dialami oleh nenek moyang kita dahulu contohnya pada Perang Uhud. Pada waktu itu Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan kepada pasukan pemanah untuk tidak keluar dari sarangnya walaupun menang atau kalah.

Kisah Perang Uhud (Tahun 3 Hijriah) adalah pertempuran antara Muslimin Madinah dan kaum musyrik Quraisy Makkah, di mana Muslimin awalnya unggul namun kemudian mengalami kekalahan strategis karena sebagian pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW untuk tetap di posisi puncak bukit, sehingga celah ini dimanfaatkan Khalid bin Walid untuk menyerang dari belakang, menyebabkan jatuhnya banyak korban syahid, bahkan Nabi sendiri terluka.

Semua kisah diatas tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita yang saat ini sedang dalam keadaan berduka. Penulis meyakini benar bahwa Sang Pencipta benar-benar sayang kepada hamba Nya dan semoga kita sebagai hamba harus tahu bahwa Allah Sang Pencipta sangat sayang pada kita.

Mari rapatkan barisan untuk mendukung pemimpin kita membenahi hal-hal yang selama ini masih dianggap kurang sehingga semua bisa cepat tertangani dengan baik dan semua korban hilang bisa ditemukan, harta benda yang lenyap bisa ada solusi oleh pemerintah baik rumah, infrastruktur, pendidikan, bahkan mata pencaharian mereka yang terdampak bisa diganti oleh pemerintah maupun lembaga apapun itu baik lokal, regional, nasional bahkan internasional.

Disetiap kejadian tentu ada hikmah dibalik itu, dan bersama kesulitan tentu ada kemudahan Surat Al-Insyirah (Ash-Sharh) ayat 5 dan 6, yang artinya "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan," sebuah janji Allah Swt untuk memberi jalan keluar setelah kesempitan.

Semoga kejadian yang dianggap sebagai “tsunami kedua” ini menambah keimanan kita secara personal dan secara kolektif sebagai bangsa. Selain itu, mungkin ada hikmah bahwa Pemerintah Indonesia akan memberikan perpanjangan dana otonomi khusus untuk selamanya dengan merevisi UUPA Nomor 11/2006, dan tidak hanya berhenti sampai 2027.

Perpanjangan dana otsus tersebut akan mampu membangkitkan semangat dan membangun ekonomi Aceh yang sudah luluh lantak oleh bencana yang dasyat ini. Tentunya Sumut dan Sumbar juga akan mendapatkan kompensasi dari Pemerintah Pusat dalam membangun kembali daerahnya, semoga, Wallahualam.

 

*) PENULIS Adalah Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh dan Peserta DiklatTaplai LEMHANAS

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved