Opini
Harga Melonjak Saat Bencana: Krisis Pasar atau Krisis Nurani?
Dan inilah yang terlihat di Sumatra: barang tersedia, namun harga dipasang seolah korban tidak punya pilihan lain.
"Di tengah kepiluan ini, muncul pertanyaan yang lebih menusuk daripada derasnya arus sungai: mengapa ketika masyarakat berjuang menyelamatkan hidup, masih ada pihak yang menggunakan bencana sebagai ladang keuntungan?"
Oleh M. Shabri Abd. Majid*)
BANJIR besar yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan hanya menghancurkan rumah, ladang, dan jembatan, tetapi juga mengguncang rasa aman jutaan warga.
Data BNPB hingga 18 Desember 2025 menunjukkan angka korban meninggal mencapai 1.068 jiwa (456 di Aceh, 366 di Sumatera Utara, dan 246 di Sumatera Barat), dengan 198 orang masih hilang dan lebih dari 537 ribu penduduk mengungsi. Desa-desa terputus, jembatan runtuh, dan aktivitas ekonomi mandek total.
Di tengah kepiluan ini, muncul pertanyaan yang lebih menusuk daripada derasnya arus sungai: mengapa ketika masyarakat berjuang menyelamatkan hidup, masih ada pihak yang menggunakan bencana sebagai ladang keuntungan?
Laporan lapangan memperlihatkan lonjakan harga yang sangat ekstrem. Telur naik dari Rp50.000 menjadi Rp100.000 (100 persen), LPG 3 kg dari Rp20.000 menjadi Rp100.000 (400 persen), LPG 5,5 kg dari Rp90.000 melesat ke Rp500.000 (455 persen), dan LPG 12 kg yang rata-rata Rp170.000 melonjak hingga Rp1.000.000 per tabung (hampir 500 persen).
Mie instan naik dari Rp3.000 menjadi Rp12.000 (300 persen), air mineral kecil dari Rp5.000 menjadi Rp12.000 (140 persen), dan beras premium dari Rp13.000 per kilogram menjadi Rp28.000 (lebih dari 115 persen).
Cabai, bawang, dan komoditas segar meningkat dua hingga tiga kali lipat, sering kali karena stok sengaja ditahan sementara warga hanya bisa membeli apa yang tersedia.
Kenaikan 100 sampai hampir 500 persen ini jelas tidak dapat ditopang oleh alasan logistik terganggu. Yang tampak adalah runtuhnya etika dagang ketika masyarakat sedang berada dalam kondisi paling rentan.
Baca juga: Harga Semen di Aceh Naik Tak Wajar, Mualem Perintahkan Pengawasan Ketat
Krisis Moral di Tengah Krisis Pasokan
Fenomena ini tidak sekadar berkaitan dengan pasokan yang terhambat. Ia menyingkap kegagalan moral. Sejak abad ke-13, Thomas Aquinas mengingatkan bahwa mengambil keuntungan dari penderitaan merupakan “pencurian terselubung dalam bentuk transaksi”, sah secara formal tetapi melanggar prinsip kemanusiaan.
Dan inilah yang terlihat di Sumatra: barang tersedia, namun harga dipasang seolah korban tidak punya pilihan lain.
Dalam analisis ekonomi modern, Amartya Sen menyebut keadaan seperti ini sebagai entitlement failure, yakni ketika masyarakat tidak kehilangan barang, tetapi kehilangan akses atas barang itu.
Joseph Stiglitz menambahkan bahwa saat krisis, pasar makin menjauh dari bentuk idealnya, dan mereka yang menguasai stok memiliki ruang lebih besar untuk memanipulasi harga.
Tanpa peran negara, tindakan oportunistik tumbuh subur. Paul Krugman bahkan menyebut praktik menaikkan harga secara brutal saat bencana sebagai profiteering, bentuk kekerasan ekonomi terhadap mereka yang sedang mengalami kehilangan.
Kenaikan harga yang menggila di tengah bencana bukanlah mekanisme pasar bekerja secara alami. Yang bekerja adalah mekanisme keserakahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)