Minggu, 19 April 2026

Opini

Harga Melonjak Saat Bencana: Krisis Pasar atau Krisis Nurani?

Dan inilah yang terlihat di Sumatra: barang tersedia, namun harga dipasang seolah korban tidak punya pilihan lain.

Serambinews.com/HO/Tidak Ada
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Kedua, aktifkan Satgas Anti-Penimbunan sebagai hisbah modern dengan kewenangan pemeriksaan, pembukaan stok, penyitaan, dan penindakan.

Ketiga, buka jalur distribusi alternatif melalui Bulog, koperasi, pasar tani, dan UMKM.

Keempat, sebarkan informasi harga resmi melalui masjid, radio desa, pesantren, WhatsApp gampong, pengeras suara posko, dan poster di pasar.

Kelima, jadikan ruang keagamaan sebagai benteng moral untuk mengingatkan larangan menzalimi korban.

Terakhir, lakukan pengawasan harga 24 jam dengan hotline, patroli, dan laporan publik yang cepat.

Belajar dari Jepang, solidaritas harus menjadi infrastruktur moral. Jepang memberi contoh bagaimana masyarakat beradab merespons bencana.

Minimarket membagikan makanan gratis, pom bensin mengeluarkan stok tanpa biaya, dan mesin penjual otomatis beralih ke mode darurat menyediakan air minum tanpa bayar. Di tengah reruntuhan, solidaritas tetap kokoh.

Kontras dengan kondisi ini menjadi cermin bagi kita. Sebab jika di tengah rakyat kehilangan rumah, harta, dan pendapatan, masih ada yang tega menaikkan harga, maka persoalan terbesar bukan banjir atau longsor, tetapi runtuhnya nurani.

Dan bila nurani runtuh, tidak ada jembatan yang cukup kuat atau ekonomi yang cukup kokoh untuk mencegah keruntuhan yang lebih besar.

*) PENULIS adalah Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved