Citizen Reporter
Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh
Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mendengar suara perempuan sebagai kelompok yang kerap berada di garis depan saat bencana datang
Oleh: Mallikatul Hanin, Korban banjir asal Bireuen, peserta diskusi dari unsur mahasiswi UIN Ar-Raniry melaporkan dari Banda Aceh
***
Di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Aceh menggelar Sarasehan Perempuan Lintas Agama bertajuk “Dari Dapur Duka ke Dapur Asa: Membangun Ketahanan dan Pemulihan Pasca-Bencana”, Senin (29/12/2025), di Aula Badan Kesbangpol Aceh.
Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mendengar suara perempuan sebagai kelompok yang kerap berada di garis depan saat bencana datang, namun sering terpinggirkan dalam kebijakan pemulihan.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen lintas agama dan komunitas, mulai dari pengurus FKUB Aceh, perwakilan Presma UIN Ar-Raniry, USK, Duta Gender, Kontras, KNPI, HAKA hingga komunitas lainnya.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan sosial, kemanusiaan, dan keadilan gender.
Perempuan dalam Bencana
Dalam sambutannya, Ketua FKUB Aceh H. A. Hamid Zein, SH., M.Hum., menegaskan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat sentral dalam situasi bencana.
Ketika banjir datang, perempuanlah yang pertama kali memastikan keselamatan anak-anak, mengurus orang tua, menyiapkan makanan di tengah keterbatasan, serta menjaga keberlangsungan hidup keluarga.
“Perempuan berada di garda terdepan. Mereka mengurus anak, mengurus keluarga, bahkan ada yang merelakan nyawa demi anaknya, tetapi mereka tetap bertahan dalam kondisi serba kekurangan,” ujarnya.
Baca juga: Malam Mencekam di Blang Awe, Asiah dan Suami Lari Sambil Gendong Anak, Semua Lenyap tak Bersisa
Perempuan juga kerap menjadi penghubung informasi di tingkat komunitas seperti mengabarkan kondisi warga, mengoordinasikan bantuan sederhana, hingga menjadi penopang solidaritas sosial.
Namun, besarnya peran tersebut tidak selalu sejalan dengan perlindungan yang diterima.
Dalam banyak situasi bencana, perempuan justru menjadi kelompok yang paling rentan baik secara fisik, sosial, maupun psikologis.
Beban Psikologis Sering Terabaikan
Diskusi dalam sarasehan ini mengungkap kenyataan pahit yang dialami banyak perempuan pasca-banjir.
Tidak sedikit perempuan mengalami tekanan mental dan trauma mendalam akibat kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga. Di sisi lain, mereka tetap dituntut untuk kuat demi anak-anak dan keluarga.
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
| Ikhtiar India Menghadirkan Hunian Layak bagi Masyarakat Miskin Kota |
|
|---|
| Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia |
|
|---|
| TPQ Ahlul Fikri Gelar Festival Ramadhan di Gampong Cot Yang, Cetak Generasi Qurani Sejak Dini |
|
|---|
| Sikap Cerdas Indonesia Bangun Hotel di Pusat Peradaban Islam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sarasehan-Perempuan-Lintas-Agama-_2025.jpg)