KUPI BEUNGOH
Fenomena Mualaf di Aceh: Ketika Islam Dihidupkan, Bukan Dipaksakan
publik Aceh kembali disuguhi peristiwa yang sejatinya tidak biasa, namun terasa semakin berulang: prosesi ikrar syahadat para mualaf.
Islam ditawarkan apa adanya dengan konsekuensi, tanggung jawab, dan jalan panjang untuk belajar.
Islam Inklusif dalam Bingkai Kolaborasi
Fenomena mualaf ini juga tidak bisa dilepaskan dari arah kebijakan Kota Banda Aceh yang mengusung visi Islam inklusif dan kolaboratif.
Islam inklusif bukan berarti relativistik, apalagi kompromistis terhadap akidah. Ia berarti tegas dalam prinsip, lapang dalam pendekatan.
Baca juga: Benarkah Willie Salim Sudah Mualaf? Ustaz Derry Sulaiman Sebut Sudah Syahadat
Dalam kerangka ini, pemerintah, ulama, dan masyarakat bergerak bersama. Negara tidak mendominasi iman, masyarakat tidak memonopoli kebenaran, dan ulama tidak berjalan sendiri.
Kolaborasi inilah yang menciptakan iklim sehat bagi pertumbuhan keislaman, termasuk bagi para mualaf.
Aceh sebagai Cermin, Bukan Alat Klaim
Fenomena maraknya mualaf di Aceh seharusnya tidak dijadikan alat klaim moral yang berlebihan, apalagi bahan kebanggaan kosong.
Ia lebih tepat dibaca sebagai cermin: sejauh mana Islam benar-benar dihadirkan sebagai sistem yang adil, manusiawi, dan meyakinkan.
Aceh hari ini menunjukkan satu pelajaran penting: ketika Islam dijalankan secara konsisten, didukung negara, dan dijaga masyarakat, ia akan menarik dengan sendirinya. Tidak perlu teriak. Tidak perlu paksaan.
Baca juga: Perjalanan Sunyi di Balik Syahadat, Mualaf Aceh Barat Belajar dalam Keterbatasan
Jika daerah lain ingin belajar dari Aceh, kuncinya bukan pada simbol, tetapi pada keseriusan.
Sebab iman tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh di tanah yang dijaga. Dan Aceh, dengan segala kekurangannya, sedang berusaha menjaga tanah itu.
*) PENULIS adalah Kabid Dakwah DSI Banda Aceh dan Dewan Penasehat DPP ISAD
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Pakai Gadget |
|
|---|
| Mobil Penumpang di Jalan Raya: Antara Kecepatan, Keselamatan, dan Kenyamanan |
|
|---|
| Adat ngon Hukom Tata Kelola Pemerintah Aceh: Hana Lagee Zat ngon Sifeut? |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 8, Mendorong Terwujudnya Damai yang Tertunda |
|
|---|
| Nyak Sandang dan Pesawat dari Lamno: Ketika Cinta Tanah Air Dibayar dengan Emas Istri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Irwanda-M-Djamil-SAg-Kabid-Dakwah-DSI-Banda-Aceh-dan-Dewan-Penasehat-DPP-ISAD.jpg)