Kupi Beungoh
Memaknai Normalitas Pendidikan Pascabencana
Gambaran ini menegaskan bahwa dibukanya sekolah tidak selalu beriringan dengan pulihnya proses pembelajaran di kelas.
Dalam praktik pembelajaran, fleksibilitas terlihat melalui penggunaan metode kontekstual dan penilaian yang menekankan proses dan perkembangan peserta didik.
Keterbatasan sarana justru mendorong kreativitas pedagogis. Lingkungan sekitar, pengalaman sehari-hari, dan dinamika kehidupan pascabencana dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang relevan dan bermakna.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan pembelajaran, tetapi juga memperkuat ikatan sosial yang penting dalam proses pemulihan.
Pada akhirnya, memaknai normalitas pendidikan pascabencana berarti mengalihkan fokus kebijakan dari sekadar mempercepat pembukaan sekolah menuju upaya memastikan keberlanjutan pembelajaran.
Keberhasilan pendidikan pascabencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat sekolah kembali beroperasi, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu menjalankan fungsinya sebagai ruang belajar yang aman, mendukung, dan membantu proses pemulihan warga sekolah.
Karena itu, kebijakan pendidikan di wilayah terdampak bencana perlu secara sadar memberi ruang fleksibilitas yang bertanggung jawab.
Fleksibilitas tersebut mencakup penyesuaian kalender akademik, penyederhanaan capaian pembelajaran, serta dukungan nyata terhadap praktik pedagogi adaptif.
Pendampingan psikososial bagi guru dan peserta didik harus diposisikan sebagai bagian integral dari pemulihan pendidikan, bukan sekadar pelengkap.(*)
*) Penulis adalah Kepala MAS Ulumul Quran Kota Banda Aceh dan Ketua Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kota Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Bercanda yang Kebablasan: Saat Kata Jadi Awal Kekerasan Seksual |
|
|---|
| Saree di Persimpangan Jalan: Akankah UMKM Tergilas Roda Tol Sibanceh? |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh, Kehadiran Negara dalam Krisis Sampah - Bagian III |
|
|---|
| Sinyal Otsus Diperpanjang, Apresiasi atas Lobi dan Komunikasi Politik Mualem |
|
|---|
| JKA dan Beban Birokrasi Ketika Hak Kesehatan Menjadi Perjuangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)