Selasa, 28 April 2026

Pojok Humam Hamid

Kepemimpinan Bencana, Variabel Dasco, dan Pragmatisme Aceh

Dalam keseluruhan proses ini, peran Dasco tetap menjadi variabel penting. Ia memastikan bahwa politik anggaran berpihak pada kebutuhan lapangan.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Rapat ini mempertemukan eksekutif, legislatif, dan pemerintah daerah dalam satu ruang kebijakan yang konkret. 

Di titik inilah variabel Dasco mulai bekerja.

Secara formal, Dasco adalah Wakil Ketua DPR RI. 

Namun dalam praktik, ia tampil sebagai pusat sentrifugal legislatif. 

Ia menjaga agar perhatian politik nasional tidak terpecah, memastikan DPR tidak sekadar mengawasi dari jauh, tetapi ikut mengondisikan percepatan. 

Kedekatannya dengan Presiden Prabowo membuat komunikasi lintas kementerian lebih cair. 

Isu anggaran tidak lagi berhenti di meja teknokrat, tetapi dikaitkan langsung dengan urgensi lapangan. 

Dalam bahasa kebijakan publik, Dasco menjadi penghubung antara kehendak politik dan kebutuhan riil masyarakat terdampak.

Baca juga: Sarapan di Warung Kopi Kubra, Purbaya Puji Kuliner Aceh

Pragmatisme Aceh

Bagi masyarakat Aceh, ukuran keberhasilan tidak pernah rumit. 

Bukan siapa yang paling sering muncul di media, bukan siapa yang paling tinggi jabatannya. 

Yang dinilai adalah siapa yang mampu mewujudkan hasil nyata. 

Jalan kembali terbuka, jembatan kembali menghubungkan kampung, alur sungai dinormalisasi, air bersih tersedia, sekolah dan puskesmas kembali berfungsi. 

Inilah logika sederhana namun keras yang disebut pragmatisme Aceh.

Pragmatisme ini pula yang menjelaskan mengapa peran Dasco menjadi relevan. 

Bukan karena simbol kekuasaan, tetapi karena kemampuannya mendorong sistem untuk bergerak. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved