KUPI BEUNGOH
Refleksi NU 100 Tahun: Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia
TEMA peringatan satu abad Nahdlatul Ulama Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia adalah ikrar sejarah sekaligus kompas masa depan.
Oleh : Azwar A. Gani *)
TEMA peringatan satu abad Nahdlatul Ulama 'Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia' bukan sekadar slogan seremonial yang berhenti di baliho dan panggung perayaan.
Ini adalah ikrar sejarah sekaligus kompas masa depan. Kalimat ini menegaskan bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan prasyarat untuk membangun kualitas kehidupan bersama yang adil, manusiawi, dan bermartabat.
Bagi NU, kemerdekaan tidak pernah dipahami sebatas bebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat terbebas dari ketakutan, kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.
Karena itu, menjaga Indonesia merdeka berarti memastikan bahwa negara tidak berjalan menjauh dari cita-cita keadilan sosial dan nilai kemanusiaan yang menjadi dasar berdirinya republik ini.
Akar Pengabdian NU: Ilmu, Umat, dan Bangsa
Peradaban mulia bukanlah peradaban yang membiarkan orang miskin tetap terperangkap dalam lingkaran kemiskinan seolah itu takdir yang tak bisa diubah.
Bukan pula peradaban yang membiarkan kebodohan diwariskan dari generasi ke generasi tanpa ikhtiar serius untuk memutus mata rantainya.
Peradaban mulia tidak dibangun di atas penindasan dan penghisapan—baik atas nama kekuasaan, ekonomi, agama, maupun ideologi apa pun.
Dalam pandangan NU, peradaban mulia adalah peradaban yang menjadikan keadilan sebagai napas dan kemanusiaan sebagai fondasi.
Ia tumbuh dari keberpihakan kepada yang lemah, perlindungan terhadap yang rapuh, serta keberanian menegakkan kebenaran meski sering kali sunyi dari tepuk tangan. Inilah nilai dasar yang terus dijaga NU sejak kelahirannya hingga memasuki abad kedua.
Sejak berdiri pada 1926, NU lahir dari rahim umat. Ia tumbuh dari pesantren-pesantren yang hidup berdampingan dengan rakyat kecil, dari para kiai yang menjadikan ilmu bukan sekadar hafalan teks, tetapi pedoman hidup dan alat pembebasan.
Karena itu, watak dasar NU sejak awal adalah khidmah—mengabdi, bukan menguasai; melayani, bukan mendominasi.
Baca juga: VIDEO - DPRK Aceh Tamiang Beroperasi dari Reruntuhan dengan Perbaikan Kanibal
Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Turun Puluhan Ribu Per Mayam Hari Ini, 10 Februari 2026 Dijual Segini
Resolusi Jihad 1945 menegaskan sikap NU bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama. Ulama dan santri turun ke gelanggang sejarah, mempertaruhkan jiwa demi mempertahankan republik yang baru lahir.
Namun, bagi NU, perjuangan tidak berhenti ketika penjajah pergi. Justru setelah kemerdekaan diraih, tantangan menjadi lebih rumit: bagaimana memastikan kemerdekaan itu benar-benar bermakna bagi seluruh rakyat, bukan hanya bagi segelintir elite.
NU memahami bahwa penjajahan dapat berganti rupa. Ia hadir dalam bentuk ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, eksploitasi sumber daya, serta pemiskinan struktural yang sistemik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/azwar-a-gani-gp-ansor.jpg)