Pojok Humam Hamid
Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang?
Kekhawatiran terhadap media sosial bukan hal baru. Sejak awal 2010-an, akademisi sudah mengangkat alarm
Ini adalah pengingat bahwa dunia digital bukan sekadar hiburan, tapi ranah yang dapat membentuk mental, karakter, dan masa depan anak-anak.
Anak-anak yang dibimbing untuk menjadi Digital Makers tidak hanya kreatif dan aktif, tetapi juga memiliki kemampuan kritis dan adaptasi terhadap teknologi yang akan mereka gunakan seumur hidup.
Selain itu, mengubah anak menjadi Digital Makers memiliki dampak jangka panjang.
Anak-anak belajar memecahkan masalah nyata dengan alat digital, misalnya membuat aplikasi sederhana untuk lingkungan, proyek seni yang menyampaikan pesan sosial, atau konten edukatif untuk teman sebaya.
Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir logis yang seringkali tidak diperoleh hanya dari scrolling pasif.
Mereka juga belajar berkolaborasi secara online maupun offline, mengembangkan soft skill yang sangat diperlukan di masa depan.
Strategi Jangka Panjang Komdigi
Kebijakan Komdigi bukan sekadar pembatasan akses, melainkan strategi jangka panjang untuk membentuk generasi digital yang sehat, kreatif, dan cerdas emosional.
Dengan bukti ilmiah, pengalaman global, dan praktik perlindungan anak, kebijakan ini memastikan anak-anak Indonesia tumbuh aman, produktif, dan siap menghadapi tantangan dunia digital.
Sejarah akademik, dari Alone Together hingga iGen, menegaskan bahwa risiko media sosial bukan sekadar spekulasi - itu nyata.
Negara-negara lain membuktikan bahwa pembatasan usia efektif mengurangi tekanan psikologis, kecanduan digital, dan eksposur konten negatif.
Dengan dorongan yang tepat, anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi Digital Makers, generasi yang mencipta, inovatif, dan tidak pasif menelan konten.
Mereka akan belajar menggunakan teknologi sebagai alat ekspresi, kolaborasi, dan inovasi, bukan sekadar hiburan tanpa arah.
Kebijakan Komdigi bukanlah sekadar aturan - ini adalah lompatan berani untuk masa depan anak-anak kita, sekaligus peluang bagi orang tua untuk ikut membentuk generasi digital yang sehat, kreatif, dan tangguh.
Jika anak-anak kita dibiarkan pasif menatap layar tanpa tujuan, kita kehilangan kesempatan untuk melatih kreativitas dan kemampuan problem solving mereka.
Baca juga: Antrean BBM Mengular di Sabang, Warga Respon Isu Kenaikan Harga
Namun dengan bimbingan, batasan yang jelas, dan program kreatif seperti Digital Makers, gadget dan media sosial berubah dari ancaman menjadi sarana belajar dan inovasi.
Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
Serambi Indonesia
pojok humam hamid
Opini
opini serambi
Saksikata
Eksklusif
Komdigi
medsos
media sosial
orang tua
aturan
Kementerian Komunikasi dan Digital
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
| Survei Nasional Terbaru Tentang Perang Iran: Sebaiknya Prabowo Ekstra Hati-Hati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-komentar-soal-iran.jpg)