KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai – Bagian 8, Mendorong Terwujudnya Damai yang Tertunda
Tanpa itu, konflik, perang hanya akan terus mewariskan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Bahkan, posisi Iran dalam percaturan geopolitik global semakin diperhitungkan, terutama karena pengaruhnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi kebutuhan masyarakat dunia.
Di sisi lain, konflik ini tidak dapat dilepaskan dari isu Palestina yang diperjuangkan oleh Iran yang hingga kini belum menemukan solusi permanen.
Dukungan terhadap Palestina datang dari berbagai pihak, termasuk dari kelompok-kelompok aliansinya di kawasan.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam jaringan kepentingan regional dan global.
Keterlibatan Iran dalam mendukung perjuangan Republik Palestina Raya dengan aliansi kawasan garda terdepan untuk Negara Palestina Merdeka antara lain dalam suatu komunitas solidaritas; Iran, Lebanon dan pejuan Gaza maupun proxy Iran lainnya.
Maka sangat mungkin Iran akan habis - habisan bertarung bersama melawan zionis Israel hingga takluk.
Iran bangkitkan bersama sel - sel proxy nya termasuk Hamas dan Hizbullah, sehingga terwujudnya Proklamasi Republik Palestina Raya, sementara suatu hari yang diimpikan warga ex Israel diberi opsi seperti yang pernah terjadi dimasa Sayyidina Umar bin Khattab ketika menaklukkan tanah Palestina dari kekuasaan Romawi.
Dalam Muqaddimah karangan Ibn Khaldun dinyatan bahwa kemenangan kaum muslimin pada masa lalu dalam melakukan peperangan sehinga menguasi Persia dan Rumawi pada tahun ketiga setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah solidaritas dan rahasia kaum muslimin pada masa lalu terletak pada keinginan mati syahid dalam berjihad memerangi musuh mereka karena mereka benar-benar merasa memiliki iman, dan sehubungan dengan rasa takut dan kekalahan yang Allah masukkan dalam hati musuh-musuh mereka. (Ibn Khaldun, , 2014, hal, 383).
Posisi Indonesia
Bagi Indonesia, posisi dalam menyikapi konflik global menjadi sangat penting.
Sejak awal, Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
Namun, dalam dinamika politik internasional yang semakin kompleks, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis antara mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif atau terseret dalam orbit kekuatan besar dunia.
Pemikiran Mohammad Hatta dalam konsep “mendayung di antara dua karang” menjadi relevan untuk dijadikan rujukan.
Indonesia perlu menjaga keseimbangan, tidak terjebak dalam polarisasi global, serta tetap berpegang pada nilai-nilai perdamaian dan keadilan internasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Pada akhirnya, perdamaian bukanlah sesuatu yang utopis.
Ia adalah keniscayaan yang harus terus diperjuangkan, meskipun sering tertunda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-dan-Masykur-Ahmad.jpg)