Jumat, 1 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian

Masyarakat internasional mendesak para pihak agar segera berdamai, mendukung untuk menghentikan perang dan kekerasan.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar Z.A, anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) 

Oleh: Yunidar Z.A*)

Sejak zaman prasejarah makhluk manusia sudah terbiasa berperang. Peperangan bahkan dinarasikan oleh Al-Quran dan Alkitab. (Daoed Joesoef, 2014.,hal, 1). Perang dan damai tidak hadir dengan sendirinya. 

Konflik Amerika dengan Iran mulai akhir Februari 2026 hingga sekarang telah mengganggu ekonomi dan geopolitik dunia. 

Masyarakat internasional mendesak para pihak agar segera berdamai, mendukung untuk menghentikan perang dan kekerasan.

Pertemuan para pihak yang bertikai maupun pihak ke tiga dalam memfasilitasi perundingan, negoisasai, dialog harus diperjuangkan dengan kesadaran, keberanian moral, dan kemauan kolektif untuk mengakhiri siklus kekerasan. 

Sebaliknya, perang seringkali lahir dari keputusan manusia yang diliputi rasa ketakutan, kepentingan, ambisi, juga ketidakpercayaan terhadap yang lain. 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia

Di titik inilah paradoks kemanusiaan terlihat jelas, sesama manusia, mampu menciptakan kehancuran dengan perang, namun kemudian memiliki kapasitas untuk membangun kembali perdamaian.

Keputusan Agresi miter Amerika Serikat yang pada awalnya diprovokasi oleh Zionis Yahudi dengan sandi operasi “roaring lion” pada 28 Februari 2026, akibat kebuntuan negosiasi dampak eskalisi tersebut telah menghancurkan rasa kemanusian, korban, dan kerusakan luar biasa.

Celakanya dapat membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk membangun kembali  dari puing-puing kehancuran peradabannya. 

Bahkan tokoh-tokoh penting yang telah menjadi korban tidak tergantikan. 

Kegagalan Komunikasi

Perang bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba - tiba. Ia merupakan akumulasi dari kegagalan komunikasi, negoisasi, runtuhnya kepercayaan, dan absennya mekanisme penyelesaian konflik yang efektif. 

Ketika diplomasi tidak lagi dipercaya, dan narasi permusuhan lebih dominan dibandingkan dialog, persamaan, kesetaraan. 

Maka, perang menjadi pilihan yang dianggap “rasional” oleh sebagian pihak. 

Padahal, di balik rasionalitas itu tersembunyi biaya kemanusiaan yang sangat besar, korban jiwa, kehancuran infrastruktur, kehancuran peradaban, kehancuran lingkungan hidup, hilanggnya rasa kemanusian, hingga trauma sosial yang berlangsung lintas generasi.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian

Keputusan penyelesaian masalah dengan perang yang mulai ditabuh sebagai jalan keluar dari kebuntuan diplomasi, tidak mudah untuk menghentikannya. 

Kini konflik telah berlangsung, akibatnya muncul luka, dendam, dan ketidakpercayaan yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, peran pihak ketiga menjadi sangat penting. 

Mediasi, negosiasi, dan fasilitasi dialog tidak dapat berjalan efektif tanpa adanya aktor yang dipercaya oleh semua pihak. 

Pihak ketiga ini bisa berupa negara netral, organisasi internasional, atau tokoh-tokoh yang memiliki legitimasi moral dan politik.

Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan perdamaian seringkali ditentukan oleh kemampuan pihak ketiga dalam membangun jembatan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak ada kesepahaman. 

Tanpa kesepahaman, tidak ada perjanjian yang dapat bertahan. Oleh karena itu, kehadiran mediator bukan sekadar formalitas. 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian

Tapi, menjadi fondasi penting dalam proses transformasi konflik dari kekerasan menuju dialog, keadilan, dan kesetaraan.

Di sisi lain, terdapat realitas yang tidak bisa diabaikan bahwa konflik (perang) telah menjadi bagian dari sistem ekonomi global. 

Industri persenjataan, perlombaan militer, dan kepentingan geopolitik menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “jaringan perang”. 

Dalam jaringan ini, konflik tidak hanya dilihat sebagai tragedi, namun juga sebagai peluang keuntungan. 

Inilah yang membuat upaya perdamaian seringkali berhadapan dengan kepentingan besar yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Sebagai jembatan penengah yang berpihak pada kemanusian dan peradaban, perlu dibangun “jaringan perdamaian” yang kuat dan berkelanjutan.

Jaringan ini melibatkan negara, masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas internasional yang memiliki komitmen terhadap resolusi konflik, transformasi konflik menuju perdamian. 

Bukan Harapan Normatif

Perdamaian harus menjadi nilai yang diperjuangkan secara sistematis, sebagai sebuah gerakan perdamaian, sosialisasi anti kekerasan, bukan sekadar harapan normatif. 

Kampanye perdamaian harus masuk dalam kebijakan, pendidikan, pemikiran dan praktik kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada tempat bagi kekerasan di dunia”. Tegas Aktor dan Sutradara  George Clooney, saat menerima penghargaan bergengsi Chaplin Award dari Film at Licoln Center di Alice Tully Hall, New York. Amerika Serikat (27/4). (Media Indonesia 30/4). 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War

Dengan berfikir bagaimana perjuangan untuk melawan kebencian, korupsi, kekejaman dan kekerasan. Mengusangkan kekerasan dengan konsep “pasar perdamaian” menjadi menarik untuk dipahami dalam konteks membangun negeri  yang lebih baik.  

Jika perang memiliki insentif ekonomi, maka perdamaian juga harus memiliki nilai yang dapat dirasakan secara nyata, diperjuangkan. 

Stabilitas politik, peradaban, pertumbuhan ekonomi, keamanan energi, dan kelancaran rantai pasok global merupakan beberapa manfaat konkret dari perdamaian. 

Dunia internasional memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas ini, karena dampak konflik tidak lagi bersifat lokal, melainkan global.

Dalam konteks dinamika geopolitik terkini, upaya menuju perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kompleksitas konflik tersebut bagaimana “perang dingin” gencatan senjata. 

Baca juga: Bupati Al-Farlaky Bagi-bagi Alsintan untuk Brigade Pangan di Aceh Timur

Ketegangan yang berkepanjangan telah menciptakan kebuntuan mentransformasikan nilai-nilai universal kemanusiaan strategis, dimana tidak ada pihak yang benar-benar menang. 

Pernyataan dari para pihak yang menyebut bahwa salah satu pihak sedang mencari cara untuk “menyelamatkan muka” mencerminkan realitas bahwa perang seringkali membawa aktor-aktor besar ke dalam situasi yang sulit untuk keluar tanpa kehilangan legitimasi.

Paling Relevan

Langkah diplomasi yang melibatkan pertemuan di Islamabad beberapa waktu lalu, menjadi sinyal bahwa dialog masih menjadi pilihan yang relevan. 

Meskipun tidak mudah, upaya untuk kembali ke meja perundingan menunjukkan bahwa selalu ada ruang untuk mengubah arah dari konflik menuju perdamaian. 

Tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali proses dialog, selama ada kemauan politik dan dukungan internasional.

Baca juga: VIDEO - Viral Bareng Wanita dan Vape, Kompol DK Diperiksa: Negatif Narkoba tapi Tetap Kena Patsus

Selat Hormuz, sebagai suatu fenomena yang sangat menarik dan telah mengguncang dunia  sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, menjadi simbol betapa pentingnya stabilitas global. 

Gangguan terhadap kawasan ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, namun juga terhadap perekonomian dunia secara keseluruhan.

Karenanya, perdamaian bukan hanya kebutuhan sepihak. Tapi menjadi kepentingan, dambaan bersama umat manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah, bagaimana manusia, para pihak yang bertikai dapat memutuskan untuk tidak berperang, dan menyelesaikan segala urusan permasalahan konflik dengan dialog, negosiasi dan transformasi konflik dalam kesadaran kolektif bahwa tidak ada kemenangan sejati dalam berperang. 

Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika manusia mampu mengendalikan ego, menahan diri dari kekerasan, dan memilih jalan dialog untuk kemenangan kemanusiaan.

Baca juga: Karo Ops Polda Aceh Kombes Pol. Heri Heriyandi Pecah Bintang Jadi Brigjen

Perdamaian suatu refleksi dari kematangan cara berfikir, bertindak, peradaban. Ia menuntut keberanian yang lebih besar daripada melakukan agresi militer. 

Jika perang sebagai ekspresi dari ketakutan dan kemarahan, maka perdamaian itu perwujudan dari harapan dan kebijaksanaan. 

Dalam dunia yang semakin terhubung, pilihan untuk melaksankan perdamian bukan lagi sekadar idealisme, ini menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan peradaban manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Sudah saatnya perang usangkan, dihentikan, bukan hanya sebagai slogan belaka, harus menjadi agenda global yang nyata. 

Baca juga: Ingat! Dua Gerhana Lagi akan Terjadi Pada 2026, Catat Jadwalnya

Dunia membutuhkan lebih banyak ruang dialog, lebih banyak kepercayaan, dan lebih banyak keberanian untuk memilih damai.

Karena pada akhirnya, masa depan umat manusia tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat dalam perang, namun oleh siapa yang paling bijak dalam peradaban, menciptakan perdamaian.

Kata yang tepat “Tidak ada tempat bagi kekerasan di dunia” Tegas Aktor dan Sutradara  George Clooney.(*)

*) PENULIS adalah anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. 

Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved