Jumat, 15 Mei 2026

Kupi Beungoh

Mengetuk Pintu Hati Serambi Mekkah dan Normalisasikan Kesehatan Mental di Aceh

Aceh, wilayah yang dijuluki Serambi Mekkah, bukan sekadar titik geografis di ujung Sumatera, melainkan sebuah ruang peradaban yang dibangun di

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
HILMA FAUZIA - Hilma Fauzia, Mahasiswa Semester 4 Program Studi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh 

Kini, Aceh tidak hanya berhadapan dengan luka lama, tetapi juga kerentanan baru di era digital.

Mahasiswa dan generasi muda Aceh kini terpapar pada risiko stres, kecemasan, dan depresi yang dipicu oleh adiksi media sosial, kelelahan digital (digital fatigue), hingga perundungan siber (cyberbullying).

Baca juga: Jangan Remehkan Basa-basi, Penelitian Ungkap Obrolan Sederhana Baik untuk Kesehatan Mental

Pengurangan interaksi tatap muka meningkatkan rasa kesepian di tengah keramaian dunia maya.

Hal ini menuntut adanya intervensi kesehatan mental yang lebih modern dan mudah diakses tanpa mengenyampingkan kearifan lokal. 

Memulihkan Aceh pasca-trauma membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik, diperlukan rehabilitasi mental dan sosial yang menyeluruh.

Normalisasi kesehatan mental dapat dimulai dari berhenti melabeli gangguan mental sebagai “Aceh Pungo”(Aceh Gila) yang merendahkan, dan mulai melihatnya sebagai kondisi kesehatan yang memerlukan empati serta penanganan medis/psikologis.

Melatih relawan dan tokoh masyarakat dalam keterampilan konseling efektif yang mampu mendampingi korban tanpa memaksa mereka menceritakan kembali pengalaman traumatisnya secara menyakitkan. 

Membangun kurikulum pendidikan dan layanan konsultasi yang memadukan pendekatan klinis dengan bimbingan spiritual. 

Baca juga: Saat Stigma Kesehatan Mental Membungkam Remaja di Aceh

Mengetuk pintu hati Serambi Mekkah berarti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengakui bahwa “kami terluka, dan kami berhak untuk sembuh."

Hanya dengan jiwa yang sehat, masyarakat Aceh dapat kembali berdiri tegak, mengelola kekayaan alamnya dengan bijak, dan mewujudkan negeri yang Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur negeri yang aman, sentosa, dan penuh ampunan Tuhan. (*)

*) Penulis adalah Mahasiswa Semester 4 Program Studi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved