Sabtu, 23 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Kita Punya Emas Energi, Tapi Mengapa Aceh Selalu Gelap?

Bagi masyarakat Aceh, kejadian seperti ini bukan hal baru. Pemadaman massal telah berulang kali terjadi selama bertahun-tahun.

Tayang:
Editor: Yocerizal
for serambinews
POTENSI ENERGI ACEH - Penulis opini, Tarmizi, menyampaikan pandangannya bahwa Aceh memiliki potensi energi yang sangat besar dan mampu mandiri dalam sektor listrik, tetapi hingga kini masih terjebak dalam ketergantungan akibat pola pikir elite, birokrasi yang rumit, politik yang tidak konsisten, serta lemahnya keberanian mengambil keputusan strategis. 

Ketiga, situasi politik yang tidak stabil. Setiap kali pemimpin berganti, rencana dan kebijakan ikut berganti. Proyek yang sudah disepakati pemimpin lama sering dibatalkan sembarangan, membuat investor tidak percaya dan ragu menanam modal besar di Aceh.

Keempat, praktik makelar dan perantara yang menjadi penghisap darah investasi. Begitu ada rencana proyek, muncul puluhan orang yang mengaku punya hubungan, mengaku bisa mengurus izin, atau menguasai lahan, meminta biaya tidak resmi dan membuat biaya proyek membengkak sampai tidak lagi menguntungkan.

Kelima, persepsi keamanan yang masih melekat di benak investor luar, meski situasi di lapangan sudah damai dan aman lebih dari 17 tahun. Risiko gangguan di lokasi proyek pedalaman, serta kurangnya jaminan hukum yang tegas, membuat mereka berpikir dua kali sebelum masuk.
 
Semua ini bekerja bersama-sama, membuat potensi emas di tanah kita terpendam, dan rakyat harus menanggung akibatnya dalam bentuk kegelapan dan kerugian ekonomi setiap tahunnya.

Baca juga: Pelaku Pembunuhan di Peureulak Barat Divonis 15 Tahun Penjara

Baca juga: 4,8 Juta Pelanggan Listrik di Sumatera Belum Nyala, PLN: Butuh 15-20 Jam untuk Start-up Pembangkit

Cara Mewujudkannya Mulai dari yang Tersedia dan yang Bisa Dilakukan

Kabar baiknya, jalan keluarnya sudah ada, dan semua syaratnya tersedia di hadapan kita.

Untuk mewujudkan Daulat Listrik Aceh, kita hanya butuh menambah pasokan sekitar 700–750 MW lagi, cukup untuk memenuhi 100 % kebutuhan saat ini, punya cadangan aman, dan siap untuk pertumbuhan ekonomi 10 tahun ke depan.

Investasi yang dibutuhkan hanya sekitar 10–14 triliun rupiah, angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan kerugian yang kita tanggung setiap tahunnya.

Sumber modal dan investor pun tersedia melimpah: mulai dari PT Pembangunan Aceh sebagai ujung tombak, pengusaha lokal, BUMN seperti Pertamina dan PLN, sampai investor asing yang sudah lama mengincar potensi energi terbarukan di Aceh. 

Proyek ini sangat menguntungkan: pendapatan pasti, biaya operasi murah, dan risiko rendah.

Yang paling penting adalah kita harus berani berubah:

  1. Ubah sistem dari sentralistik ke gabungan: setiap wilayah wajib punya kemampuan mandiri minimal 80 % kebutuhannya, tapi tetap terhubung untuk saling bantu.
  2. Tegakkan prinsip: proyek strategis seperti energi tidak boleh diubah atau dibatalkan sembarangan hanya karena pergantian pemimpin. Ini hak dan kebutuhan rakyat, bukan milik kelompok atau individu.
  3. Bersihkan lingkungan kerja: larang tegas perantara dan praktik tidak resmi, permudah birokrasi, dan berikan jaminan hukum serta keamanan yang tegas kepada semua pihak.
  4. Ubah pola pikir: mulai percaya pada kemampuan diri sendiri, berani mengambil keputusan untuk kepentingan rakyat, dan berpikir untuk masa depan, bukan hanya untuk masa jabatan.

Mimpi yang Bisa Diwujudkan, Asalkan Berani

Daulat Listrik Aceh bukan sekadar mimpi indah atau angan-angan belaka. Ini adalah kebutuhan dasar, ini adalah hak setiap warga Aceh, dan ini adalah cara kita memastikan bahwa kejadian gelap gulita seperti kemarin tidak akan terulang lagi di masa depan.

Kita punya sumber daya, kita punya wewenang, kita punya modal, dan kita punya rakyat yang siap mendukung. Satu-satunya yang kurang hanyalah kemauan dan keberanian untuk berubah dari cara lama yang merugikan, ke cara baru yang membebaskan dan memajukan.

Baca juga: Kapan Gaji ke-13 Pensiunan 2026 Cair? TASPEN Sebut Mulai 2 Juni, Ini Jadwal Lengkapnya

Baca juga: Sosok Ratu Sofya, Artis Asal Aceh yang Somasi Ibu Kandung soal Honor Film: Gue Ngebiayain Emak Gue

Mari kita mulai diskusi dan gerakan ini dari diri kita sendiri, dari lingkungan kita sendiri, dan dari pemimpin kita sendiri. Mari kita buktikan bahwa Aceh tidak hanya kaya sumber daya, tapi juga kaya semangat dan kemampuan untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri.

Karena pada akhirnya, cahaya yang kita nantikan tidak hanya datang dari aliran listrik, tapi juga datang dari perubahan cara berpikir dan bertindak kita sendiri.

Artikel ini terinspirasi dari diskusi panjang mengenai potensi, hambatan, dan solusi pembangunan energi di Aceh. Semua pihak dipersilakan menyampaikan pandangan, masukan, dan usulan untuk memperkaya gagasan ini demi kemajuan bersama.(*)

PENULIS adalah mantan aktivis 98 dan juga Pembina The Aceh Institut.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved