KUPI BEUNGOH
Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi
Sebagai kota yang dikenal luas sebagai Serambi Mekkah, Banda Aceh memikul tanggung jawab besar untuk menjaga identitasnya
Di sisi lain, masih terdapat pandangan bahwa pelaksanaan Syariat Islam dapat menghambat investasi dan pembangunan ekonomi.
Pandangan tersebut perlu dilihat secara lebih objektif dan proporsional. Faktanya, dunia usaha membutuhkan stabilitas sosial, keamanan, ketertiban, dan kepastian hukum.
Daerah yang memiliki kehidupan sosial yang tertib justru cenderung lebih menarik bagi investor karena memberikan rasa aman dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa setiap kebijakan publik harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Baca juga: Ade Naylan Hafizah 30 Juz Peraih Best Award SDGs Internasional Kini Lulus Pendidikan Dokter USK
Karena itu, pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pelaksanaan Syariat Islam harus dipandang sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Tugas Kompleks Illiza
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelaksanaan Syariat Islam.
Sebagai pemimpin yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan serta komitmen terhadap nilai-nilai keislaman, Illiza berupaya memastikan bahwa modernisasi tidak menggeser identitas Banda Aceh sebagai Serambi Mekkah.
Baca juga: Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Baitul Makmur, Plt Sekda Abdya: Investasi Akhirat
Di bawah kepemimpinannya, berbagai program pembangunan terus didorong untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat perekonomian masyarakat, memperbaiki tata kelola perkotaan, serta menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi warga.
Pada saat yang sama, pemerintah kota juga menunjukkan komitmen dalam menjaga marwah daerah melalui penguatan pelaksanaan Syariat Islam, pemberdayaan aparatur gampong, pembinaan masyarakat, dan kolaborasi dengan para ulama serta tokoh masyarakat.
Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Persoalan kebersihan kota, peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, penyediaan lapangan kerja, kualitas pendidikan, hingga pembinaan generasi muda memerlukan perhatian dan kerja keras yang berkelanjutan.
Namun arah kebijakan yang berusaha memadukan pembangunan dengan penguatan nilai-nilai keislaman merupakan langkah yang patut didukung bersama.
Baca juga: VIDEO - Pemancing Terseret Ombak di Pulo Aceh Ditemukan Meninggal Dunia
Sebagai anggota DPRK Banda Aceh, saya meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah semata.
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
| Asap Rokok di Momen Lebaran: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ginjal Keluarga |
|
|---|
| Triliunan Harta di Bawah Tanah Aceh jatuh ke Jaringan Kejahatan |
|
|---|
| Rumput, Angin dan Cerita dari Savana Indrapuri |
|
|---|
| Memaknai Hari Lahir Pancasila dan Peluang Kembali ke UUD 1945 Asli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Irwansyah-SE-Politisi-Gerindra.jpg)