Jumat, 17 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IX) - Mungkinkah Putin “Salah Hitung” di Ukraina?

Gejala pertama yang sudah mulai terlihat adalah kecepatan pengusaan wilayah, terutama penaklukan ibu Kota Kiev.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Foto Maret 2022). 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

MUNGKINKAH Putin salah berhitung dalam membuat keputusan invasi Rusia?

Jangankan Putin yang berkuasa di Rusia yang lebih kecil dari Uni Soviet, para pendahulunya, pemimpin Uni Soviet yang paling hebat sekalipun, sekelas Stalin, yang bersama sekutu mengalahkan Jerman pernah membuat kesalahan fatal.

Kesalahan itu terjadi ketika Stalin memutuskan perang Korea pada tahun 1950, dua tahun sebelum ia meninggal.

Steven Kotkin, Profesor sejarah Universitas Princeton yang menulis 3 jilid  biografi Stalin dalam sebuah wawancara  dengan radio New Yorker baru-baru ini (Remnick, Maret 2022) menguraikan tentang permintaan Kim Il Sung-pemimpin Korea Utara, untuk menyerang Korea Selatan pada tahun 1950.

Dengan berapa asumsi yang dihitung dengan cermat oleh Stalin- ia terkenal sebagai analis resiko handal yang sangat dipercaya pemimpin pertama Soviet, Vladimir Lenin, akhirnya ia memberi persetujuannya.

Apa yang terjadi?

Perang yang awalnya dianggap mudah dan cepat itu kejadiannya seratus persen berbeda.

Pejuang Korea Selatan yang dipimpin oleh diktator  pertama antikomunis, anti-Cina, dan anti-Uni Soviet, Syngman Rhee (1875-1965), melawan 75.000 serdadu komunis Korea Utara dengan semangat baja.

Tak sabar melihat keadaan yang semakin genting, Presiden AS, Harry S. Truman menurunkan tentara AS ke kancah Perang Korea.

Walaupun tentara Korea Utara pernah mempermalukan tentara AS dalam sejumlah pertempuran, akhirnya ketika perang dihentikan pada masa presiden Eisenhower, garis pemisah kedua negara kembali  ke batas awal, paralel 38 utara yang disepakati oleh AS, Uni Soviet, dan PBB, sampai hari ini.

Perang itu gagal dimenangkan oleh Korea Utara, Cina, dan Rusia.

Seorang pemimpin sekelas Stalin yang menjadi otak besar Lenin membangun Uni Soviet, ahli strategi yang mengubur sekitar 400 ribu tentara Jerman di luar Moskow dan sepanjang jalan dari Jerman ke Rusia, tak menyangka ia salah berasumsi.

Ia tidak pernah berpikir Korea Selatan berperang sangat heroik, dan ia tidak pernah berhitung AS akan berperang mati-matian.

Ia membuat sebuah “miskalkulasi” fatal.

Miskalkulasi juga dibuat oleh Lydon B Jhonson, Presiden AS yang melanjutkan kepemimpinan Kennedy yang mati terbunuh pada tahun 1962.

Ketika ia memutuskan membantu Vietnam Selatan dari hanya sekadar mengirim penasihat militer kepada pengiriman angkatan perang AS, ia mempunyai beberapa asumsi yang kemudian ternyata sangat salah.

Asumsi pertamanya adalah jika dibiarkan apa adanya, kekuatan Vietnam Utara komunis akan mengalahkan Vietnam Selatan, dan jika itu terjadi AS dan sekutunya akan mempunyai masalah besar di Asia, khususnya Asia Tenggara.

Johnson yakin, jika Vietnam Selatan kalah, maka akan berlaku “teori domino”, artinya satu per satu negara Asia Tenggara akan “dimakan” oleh komunis Cina dan Soviet.

Teori domino itu kemudian diyakini Jhonson akan menular seperti pandemi, yang akan menjalar ke benua Asia daratan lainnya, dan Asia akan jadi benua komunis.

Dan itu adalah horor “perang dingin” yang paling menakutan AS.

Asumsi kedua Jhonson yang membuat ia sangat optimis adalah, melihat keberhasilan awal pembangunan Korea Selatan yang jauh meninggalkan Korea Utara.

Ia yakin jika berhasil mempertahankan Vietnam Selatan, maka AS akan mempunyai dua kasus yang menunjukkan “model” Barat jauh lebih cepat maju, kaya, dan makmur, dibandingkan dengan model komunis, Uni Soviet-Cina.

Jhonson membuat kalkulasi yang salah.

Ho Chi Min pendiri Partai Komunis Vietnam dan pemimpin Vietnam Utara dan kawan-kawanya adalah nasionalis sejati yang memang berfaham komunis, namun tak punya maksud menjadi ekspansionais.

Sebelumnya, ia telah berhasil mengusir penjajahan Perancis setelah Perang Dunia II, bukan karena semangat dan elan komunis, tetapi lebih berakar kepada nasionalisme, dan semangat  perang kemerdekaan Vietnam sejati.

Tidak seperti dugaan Nixon, Ho Chi Min dan pengikutnya tidak pernah bermimpi untuk mencaplok negara lain, sekalipun Vietnam pernah menginvasi Kamboja- namun itu bukan karena soal ideologi komunis.

Asumsi kedua yang salah adalah menyamakan Vietnam Selatan dan Korea Selatan dalam hal pembangunan jika perang selesai, termasuk menganggap elit dan pemerintahan yang sama. 

Padahal semasa perang pun elit dan pemerintah Vietnam Selatan adalah rezim yang korup, tidak kompeten, dan sama sekali tidak memberi perhatian yang sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakyatnya dan kejayaan negerinya.

Jhonson salah total, dan akhirnya AS kalah dan keluar dari Vietnam, ketika presiden Nixon berkuasa.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (II), Emosional atau Logiskah Alasan Putin?

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Mungkinkah Terulang di Ukraina?

Ketika cerita “miskalkulasi” itu diterapkan untuk kasus Ukraina, mungkinkah Putin salah hitung?

Secara umum, miskalkulasi Putin belum sangat nampak, walupun beberapa gejala awal sudah kelihatan.

Ada beberapa kecenderungan awal yang mungkin salah dalam kalkulasi Putin, yang dapat saja membuat tidak hanya gagal menguasai Ukraina, akan tetapi dapat berakibat fatal untuk dirinya.

Gejala pertama yang sudah mulai terlihat adalah kecepatan pengusaan wilayah, terutama penaklukan ibu Kota Kiev.

Dengan kekuatan mesin perang negara adi daya itu, ditambah dengan personel darat yang cukup banyak, seharusnya Kiev dan sejumlah kota lainnya sudah akan jatuh ke tangan Rusia dalam tempo seminggu.

Kita tidak tahu ketika dalam dua hari ini Putin meminta bantuan Cina, terutama pesenjataan, sebagai trik belaka ataukah memang benar-benar dibutuhkan.

Kalau memang benar permintaannya adalah senjata, maka Rusia terlalu cepat memasuki  masalah besar.

Tetapi itu belum pasti, karena taktik dan strategi perang selalu ada logikanya.

Sebagai perbandingan Uni Soviet hanya butuh waktu tiga hari untuk menaklukkan dan menguasai Kabul pada tahun 1979.

AS tidak butuh waktu banyak menguasai Kabul, karena AS telah mepersenjatai berbagai faksi yang berperang dengan Taliban, walaupun semenjak Oktober 2021 telah menjatuhkan bom, membantu Aliansi Utara.

AS hanya datang ke Kabul setelah kota itu dikuasai oleh Aliansi Utara pada bulan Desember 2001

Perkiraan para ahli militer independen- termasuk sebagian pengamat barat, menyebutkan paling ada sesuatu yang sedang terjadi di lapangan, yang membuat Rusia tidak akan sangat gampang menkalukkan Ukraina, walaupun pada akhirnya, Rusia berpeluang untuk mengalahkan Ukraina, dan menguasai ibu kota Kiev.

Memasuki 2 hari terakhir minggu ketiga invasi dilakukan, akan tetapi hanya baru satu kota, Kharkev, bekas ibu kota Ukraina sebelum dipindahkan ke Kiev pada tahun 1935, yang berhasil dikuasai.

Keyakinan Putin bahwa rakyat Ukraina akan menyambut tentara Rusia dengan gembira, tidak terjadi di Kharkev, bahkan rakyat keluar rumah beramai-ramai meneriakkan protes kepada tentara Rusia.

Optimisme Putin yang tidak mau menyebutkan istilah perang untuk invasi Ukriana juga adalah cermin percaya diri yang berlebihan.

Di Rusia hari ini, media dilarang keras oleh pemerintah untuk menulis kata “perang”.

Kata yang digunakan adalah “operasi khusus militer”-sebuah istilah yang menggambarkan hanya pengerahan skala kecil tentara untuk pembebasan Ukraina yang asumsinya adalah akan sangat cepat.

Halangan perlawanan dari tentara dan rakyat Ukraina bagaimanapun tidak akan sebanding dengan kekuatan raksasa tentara Rusia.

Akan tetapi pertanyaannya kemudian, apakah kekuatan moral tentara dan rakyat Ukraina akan sebanding dengan kekuatan moral tentara Rusia?

Penjelasan tentang kalahnya dua negara adikuasa -AS, Uni Soviet/Rusia di Vietnam dan Afghanistan menunjukkan kekutan moral rakyat dan tentara adalah kunci penting kemenangan  akhir.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (V), Laboratorium Suriah Putin, untuk Ukraina?

Bab Panjang Perang di Ukraina

Perang dan kekerasan yang sedang terjadi hari ini bukanlah sesuatu yang baru di Ukraina.

Perang, darah, dan kematian telah menjadi beberapa bab panjang dalam sejarah Ukraina dan Eropa. 

Antara abad 9-15, Ukraina telah mengalami 40 peperangan baik antara penguasa Ukraina-Rusia dengan negara luar, atau peperangan antara kekuatan luar yang menyeret Ukraina di kawasan Ukraina.

Tercatat nama Byzantium, Ottoman, Mongol, dan Astro Hungary sebagai kekuatan besar yang pernah terlibat

Selanjutnya selama 300 tahun kemudian, abad 16-18 Ukraina mengalami 14 kali peperangan dan pemberontakan.

Pada abad ke 17, selama 15 tahun, 1602-1617 imperium Ottoman atau Turki Usmani pernah berperang dengan Ukraina sebanyak 10 kali.

Sebelum merdeka menjadi republik yang pada umumnya melawan Rusia.

Setelah bubarnya Uni Soveit, dengan Rusia pun sebenarnya Ukraina telah berperang lebih dari 25 kali, termasuk perang yang sedang berlangsung hari ini.

Sejarah tentang darah, penderitaan dan kematian rakyat Ukraina ditulis dengan cukup terang oleh Timothy Saiders, Profesor Sejarah Universitas Yale, dalam bukunya “Bloodlans” (2010).

Ia hanya memberi fokus kepada korban akibat tingkah dan perlakuan dua tiran besar sejarah, Hitler dan Stalin terhadap rakyat Ukraina.

Korban rakyat Ukraina dalam perang Dunia ke II mencapai lebih dari 6,8 juta orang, karena salah satu front Timur Jerman merasuk ke Uni Soviet melalui Ukraina.

Dari jumlah 6,8 juta korban itu, 1.4 juta jiwa adalah tentara Ukraina yang menjadi bagian dari tentara Uni Soviet.

Ukraina mengalami paling kurang empat gelombang perang Perang Dunia ke 2, berhadapan dengan Nazi Jerman, dan bahkan dengan Uni Soviet, ketika perang usai.

Kematian rakyat Ukraina ketika bergabung dengan komunis Rusia juga tidak sedikit.

Walaupun Ukraina sampai hari ini produsen gandum terbesar Eropa, dan menjadi sumber impor sebagian besar negara Timur Tengah, Stalin pernah membuat rakyat Ukraina menderita kelaparan antara tahun 1930-1933.

Kasus kelaparan yang dikenal dengan istilah Holodomor adalah ujicoba Stalin untuk koletikvisasi pertanian rakyat Ukraina yang gagal, yang membuat 7 juta rakyat negeri itu mati kelaparan. (Applebaum, 2017)

Baca juga: Rusia Bantah Minta Bantuan Militer China Untuk Memperkuat Serangan ke Ukraina

Baca juga: Demonstran Ukraina di Melitopol, Menuntut Tentara Rusia Kembalikan Wali Kota yang Diculik

Tak Bisa Dianggap Enteng

Berbagai episode perang dan sejarah kekerasan yang telah terjadi itu sedikitnya memberi penjelasan tentang betapa perkiraan kecepatan penguasaan Ukraina oleh tentara Putin, kali ini akan berhadapan dengan kekuatan moral tentara dan rakyat Ukrina yang tidak bisa dianggap enteng.

Endapan pengalaman dan memori kolektif rakyat Ukraina terhadap kekerasan, perang, kematian, dan darah, mungkin saja luput dari catatan Putin tentang kompleksitas penaklukan yang akan dihadapi Rusia.

Bahwa lambat atau cepat, ibu kota Kiev dan Ukraina akan jatuh ke tangan Rusia, tidak ada satu pihak pun yang berani mengatakan tidak akan terjadi.

Karena, semakin kuat perlawanan yang diberikan oleh Ukraina, akan semakin kuat pula pengerahan mesin perang Rusia, dan akan semakin banyak pula korban masyarakat sipil akan terjadi.

Kemungkinan besar Rusia akan memenangkan peperangan fase awal di Ukraina.

Sejarah menyebutkan memenangkan perang satu perkara, namun memenangkan damai perkara lain lagi.

Memenangkan damai tidak mampu dilakukan oleh AS di Afghanistan.

Setelah 20 tahun berperang, tahun kemarin AS keluar dari Afghanstan dengan status kalah dan gagal.

Memenangkan damai juga tidak mampu diraih Rusia/Uni Soviet di Afghanistan 41 tahun yang lalu.

Kekuatan moral dan spritual pada akhirnya mengalahkan berbagai persenjataan modern.

Di sebalik perang bersenjata, apakah kalkulasi Putin dalam hal perang ekonomi telah benar dan tepat?

Apakah boikot impor minyak Rusia oleh Barat telah dihitung oleh Putin dengan benar?

Apakah kesetiaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kepada Rusia untuk tidak menikkan produksi dalam kontekes solidaritas negara pengekspor minyak -OPEC akan bertahan?

Bagaimana jika kedua negara itu mendapat ancaman dari Barat dalam berbagai bentuk, bila tidak menikan produksinya?

Apakah benar benar Eropa sangat tergantung dengan energi Rusia?

Bagaimana jika mereka, terutama Jerman akan kembali kepada energi nuklir seperti yang baru saja dinyatakan oleh pemerintah Jerman.

Bagaimana jika embargo AS untuk Saudi Arabia dan UAE tentang pasokan spare part F-16 dan rencana pembelian F-35  untuk menyerang pemberontakan  Houthi dicabut?

Akankah berita “tidak mau terima” telepon Joe Bidden, dari pangeran MBS Saudi, dan Pangeran Mohammad berkelanjutan?

Jika embargo itu dicabut, akankah puluhan oligarkhi Biden yang melarikan diri dan sebagian kekayannya ke Dubai akan diperbolehkan untuk tinggal?

Akankah Ukraina menjadi Afghanistan kedua kepada Rusia?

idak ada seorangpun yang mampu menjawabnya.

Perang ini akan menjadi perang yang paling mahal yang mungkin pernah dialami oleh Rusia semenjak tahun 1991. Apa sebabnya?

Karena  perbatasan  darat Ukraina bersebelahan dengan lebih dari 1500 kilometer berbatasan Polandia, Romania, Hungaria, dan Slovakia, yang semuanya adalah negara anggota NATO yang jelas memihak dan membantu habis-habisan Ukraina.

Itu belum lagi perbatasan dengan Moldovia yang panjang 1,200 kilometer yang terus merengek untuk diterima menjadi anggota NATO.

Selama ada perlawanan dari tentara dan rakyat Ukraina terhadap Rusia,-seandainya Rusia berhasil, selama itu pula akan ada berbagai bantuan untuk perlawanan itu, dan itulah 3.000 kilometer Ukraina dengan negara yang antipendudukan Rusia di Ukraina.

Kalau itu terjadi, maka akan ada perang panjang Eropa, yang kembali seperti abad ke 18 dan 19.

Kini hanya ada satu peluang yang terbuka untuk Putin.

Ia harus memenangkan perang secara mutlak dengan cara secepat-cepatnya, untuk kemudian berunding dengan AS dan sekutunya yang tergabung dalam dalam NATO.

Jika hanya mampu mengambil alih Kiev, dan mampu mengganti dengan pemerintahan boneka Moscow, apakah persoalannya akan selesai?

Bagaimana dengan menundukkan perlawanan 40 juta penduduk dari negara yang luasnya terbesar kedua di Eropa setelah Rusia?

Dalam sejarah perang klasik kemenangan perang yang yang paling tidak diinginkan adalah kemenangan dengan tragedy yang disebut “pyrrhic victory”.

Istilah ini berasal sejarah perang yang dipimpin raja Pyrrhus dari Epirus-terletak antara Yunani dan Albania, yang memerangi tentara Roma pada dua setengah abad sebelum Masehi.

Raja Phyrus memenangkan kedua Perang dengan Romawi, Asculum, 279 sebelum Masehi, dan Hercalea 280 sebelum Masehi.

Kemenangan itu diperoleh, tetapi sangat tidak sebanding dengan korbanan materi dan manusia yang cukup banyak.

Uni Sovier/Rusia AS pernah mengalami kemengan Pyrrhic di Afganistan. 

Bahkan, tidak salah kalau invasi dan  pendudukan Indonesia  di Timor Timur yang sempat bergabung dengan Indonesia selama 23 tahun lebih, untuk kemudian lepas kembali dan menjadi negara dapat juga digolongkan dalam kategori “pirrhic victory”

Akankah Putin tidak salah hitung? Waktulah yang akan menentukannya.(BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved