Kupi Beungoh
Budaya Pidie: Mita Sithon Pajoh Sibuleun
Daerah-daerah yang menjanjikan secara ekonomi telah ada dalam catatan orang Pidie yang diceritakan secara turun-temurun.
Akibatnya mereka enggan menutup usaha di rantau selama bulan Ramadhan.
Ketiga, sebagian perantau harus beradaptasi dengan pekerjaan baru yang bukan milik sendiri.
Para pekerja pada perusahaan swasta dan pemerintah tentu tak mungkin meninggalkan pekerjaan mereka yang sangat terikat dengan aturan dari majikan.
Baca juga: Ramadhan Momen Perbaikan Sosial
Akhirnya, kita tetap berharap terdapat kelompok perantau dan penduduk Pidie yang secara suka rela melestarikan budaya mita sithon, pajoh sibuleun.
Mereka akan menikmati dua dampak dari pelestarian budaya ini, yaitu memiliki waktu untuk istirahat sekaligus ibadah yang cukup.
Manusia membutuhkan keseimbangan ketenangan duniawi dan rohani (ukhrawi).
Istirahat dan ibadah ini akan menciptakan kebahagiaan rohani setelah sebelas bulan mereka bekerja untuk kepetingan “duniawi”. Semoga!
*) PENULIS Tarmizi A Hamid adalah budayawan Aceh dan Hasan Basri M. Nur adalah mahasiswa PhD di Universiti Utara Malaysia (UUM) Negeri Kedah. Keduanya adalah anggota tetap TOMPi.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
| Diaspora Aceh di Malaysia, Cahaya Persatuan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Relawan, Ajang Anak Muda Mengabdi untuk Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tarmizi-A-Hamid-dan-Hasan-Basri-M-Nur.jpg)