Kupi Beungoh

Aceh, Islam, dan Modernitas: Warisan dan Wawasan

Ketika Islam dijadikan simbol kosong yang dipisahkan dari nilai-nilai keadaban, maka ia menjadi kaku--dan terkadang, memusuhi kehidupan itu sendiri.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Jika Sultan Iskandar Muda hidup hari ini, ia barangkali lebih sibuk membangun pusat riset energi terbarukan di Lhokseumawe daripada sibuk mengatur perempuan tidak duduk mengangkang di kereta roda dua, sekaligus dengan aturan pakaian.

Oleh: Ahmad Humam Hamid*) 

“Yahwa-paman bahasa Aceh-, aku baru keluar dari Masjid Jumeirah. Klasik betul, arsitektur abad lalu. Tapi lingkungan sekitarnya bersih, teratur. Anak-anak main bola di taman. Ibu-ibu bawa stroller, pakai abaya dan sneakers. Modern, tapi islami. Aku jadi bertanya: kenapa Aceh tak bisa begini?”

Pesan WA itu saya terima dari seorang pemuda Aceh yang sedang transit di Dubai, dalam perjalanan ke Tunisia untuk memulai studi S2-nya. 

Ayahnya seorang tokoh lokal di dataran tinggi Gayo yang wawasannya luas. 

Punya kebun kopi arabika 8 hektare, alumni kampus Islam terkemuka, dan pembelajar yang tangguh. 

Hampir setiap kali saya ke Gayo, saya singgah ke dia, ngopi, makan alpukat, markisa, dan kadang jus terong Belanda. 

Kami bicara, sementara pemuda tadi-anaknya, semenjak kecil selalu duduk bersama kami, mendengar dengan cermat.

Pemuda itu bukan tokoh politik, bukan pula aktivis. 

Hanya seorang anak muda biasa--pernah belajar di dayah selama tiga tahun sambil sekolah lanjutan, lalu kuliah di kota, kini merantau ke Afrika Utara. 

Seperti banyak generasi muda lainnya, ia punya mata yang tajam dan hati yang terusik oleh kenyataan: mengapa Aceh yang dibanggakan sebagai “Serambi Mekkah”, terasa semakin jauh dari semangat masa depan Islam itu sendiri?

Aceh hari ini berdiri di antara dua kutub: semangat menjaga identitas Islam yang kuat, dan kebutuhan mendesak untuk merangkul dunia modern yang terus bergerak. 

Dalam perjalanan itu, seperti kata Fareed Zakaria-pemikir global terkemuka muslim AS berdarah India-, sering kali umat Islam bukan tersesat dalam iman, melainkan ragu dalam menghadapi perubahan.

Kita bisa melihat Dubai sebagai contoh ekstrem modernitas. 

Tapi Jumeirah bukan sekadar distrik elite--ia adalah simbol keberhasilan menggabungkan nilai-nilai Islam dengan keterbukaan, efisiensi, dan teknologi. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved