Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Aceh, Islam, dan Modernitas: Warisan dan Wawasan

Ketika Islam dijadikan simbol kosong yang dipisahkan dari nilai-nilai keadaban, maka ia menjadi kaku--dan terkadang, memusuhi kehidupan itu sendiri.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Dalam salah satu tulisannya, Zakaria menyebut bahwa tantangan terbesar dunia Islam bukan sekadar potensi radikal walau dari sebagian yang sangat kecil, melainkan ketidaksiapan struktural untuk bersaing dalam dunia modern.

Ketertinggalan dalam bidang pendidikan, riset, tata kelola pemerintahan, serta pemberdayaan ekonomi menjadi hambatan nyata umat Islam, termasuk Aceh

Ketika institusi-institusi sosial dan politik tidak dibangun di atas asas meritokrasi, transparansi, dan inklusivitas, maka ruang bagi inovasi pun menyempit.

Dalam konteks ini, modernitas bukan berarti meniru Barat, tetapi membangun kapasitas internal untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan transformasi yang berakar pada nilai-nilai universal: keadilan, ilmu, dan kemaslahatan umat. 

Baca juga: Sudah 4 Kali Nikah, Pria Abdya Ini Rudapaksa Anak Tiri Hingga Melahirkan, Terancam 200 Kali Cambuk

Harus Berani Mengambil Jalur Berbeda

Tantangan Aceh hari ini bukan hanya menjaga identitas keislamannya, tetapi menjadikannya sebagai fondasi bagi kemajuan yang berdaya tahan dalam dunia yang terus berubah.

Aceh, jika ingin menjadi pelopor Islam yang membumi dan modern, harus berani mengambil jalur berbeda. 

Bukan berarti menanggalkan identitas, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan yang adaptif.

Modernitas bukanlah ancaman bagi nilai-nilai Islam, melainkan lahan subur untuk menumbuhkan etika sosial, keadilan, dan ilmu pengetahuan yang berpihak pada kemaslahatan umat. 

Dengan memadukan warisan syariat dengan semangat inovasi, Aceh dapat menciptakan model peradaban yang tidak hanya religius secara simbolik, tetapi juga solutif dalam menjawab tantangan zaman. 

Di sinilah letak keberanian sejati: meretas batas antara tradisi dan pembaruan demi menghadirkan Islam yang membumi, kontekstual, dan relevan bagi generasi mendatang.

Rindu Aceh yang tak Canggung Peradaban

Pemuda yang mengirim WA dari Jumeirah tadi, bukan sedang membandingkan. 

Ia sedang berharap. 

Ia rindu pada versi Aceh yang tidak tegang, tidak curiga pada masa depan, dan tidak canggung dengan peradaban.

Ia tidak ingin meninggalkan Aceh

Tapi ia ingin kembali ke Aceh yang menyambutnya--bukan hanya dengan berbagai qanun, tapi dengan ruang tumbuh.

Suatu hari nanti, mungkin ia akan kembali dari Tunisia. 

Ia duduk di masjid kecil di Meureudu, Takengon, atau Kota Fajar, di antara taman bermain dan perpustakaan. 

Ia melihat imam masjid yang punya start up dan juga dosen kewirausahaan. 

Ia mendengar khutbah tentang membangun koperasi syariah digital dan agritech sederhana pedesaan. 

Ia melihat ibu-ibu bicara tentang gizi bayi dan lansia,  dan berbagai hak anak, termasuk bukan sekadar memaksa mereka dengan berbagai hafalan.

Ia tak behenti dan terus berpikir, mengajak kawan-kawannya untuk satu tekad: Aceh, Islam, dan modernitas, bukan lagi tiga kata yang terpisah. 

Tapi satu napas yang membangun harapan.

Aceh harus bergulat dengan cerdas. 

Ia harus berdamai dengan zaman tanpa kehilangan ruhnya, harus menjinakkan modernitas dengan cara yang penuh keanggunan dan inovasi. 

Dunia menawarkan contoh-contoh yang megah--Dubai dengan menara-menara kacanya, Doha dengan kilau masa depannya, Kuala Lumpur dengan denyut modernitas yang tak pernah padam. 

Namun Aceh tidak harus menjadi Dubai, tidak mesti menyerupai Doha, dan tidak harus mengcopy Kuala Lumpur. 

Aceh harus menjadi dirinya sendiri.

Aceh harus belajar memadukan kearifan lokal yang sudah lama mengalir dalam nadinya, menjahitkan nilai-nilai Islam yang telah menjadi nafasnya, dan menyulam semangat modernitas yang terus menggoda. 

Sintesis ini bukan sekadar meniru, tetapi melahirkan sesuatu yang baru. 

Bukan hanya menyesuaikan diri, tetapi memimpin arah.

Nanti di tangan anak-anak Aceh yang berani bermimpi, yang cerdas dan teguh, yang mau berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya, masa depan Aceh akan terbuka. 

Sebuah masa depan di mana Aceh menjadi tanah yang maju, tetapi tetap berpijak pada akar budayanya. 

Menjadi Aceh yang tidak hanya bersinar, tetapi juga membanggakan hati para leluhurnya.

Dan mungkin si pemuda dari tanah Gayo itu, ia akan mengirim pesan baru:

“Yahwa, aku baru keluar dari salah satu masjid kecamatan Pantai Barat-Selatan Aceh. Tapi aku merasa seperti di Jumeirah, Dubai. Modern, hangat, dan Islami. Sepertinya, masa depan itu sudah mulai mampir ke sini.”

 

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI.

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved