KUPI BEUNGOH
Kurban: Jangan Asal Sembelih
Selain itu jagal harus mampu mengenali tanda-tanda kehidupan pada hewan sembelihan, memahami anatomi leher hewan sehingga tepat dalam menentukan lokas
Ini sesuai dengan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk berbuat ihsan dalam segala tindakan.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (H.R. Muslim dari Syaddad bin Aus).
Menyembelih mestinya dilakukan oleh jagal terlatih, dimana memahami dengan baik tatacara penyembelhan.
Baca juga: Daging Kurban Dibagikan Diluar Desa Penyembelihan, Boleh atau Tidak? Begini Penjelasan Abu Mudi
Seorang jagal, minimal menguasai beberapa hal pokok penyembelihan, diantaranya menerapkan syari’at Islam.
Disini jagal harus benar dalam memosisikan diri untuk menyembelih dan melakukan penyembelihan dengan lafaz niat dan doa yang sesuai tuntunan Islam.
Karena, disinilah inti dari penyembelihan halal.
Selain itu jagal harus mampu mengenali tanda-tanda kehidupan pada hewan sembelihan, memahami anatomi leher hewan sehingga tepat dalam menentukan lokasi sayatan, dan bisa mengenali serta memastikan status kematian hewan.
Jagal juga harus terampil menyiapkan peralatan penyembelihan, seperti memilih dan mengasah pisau sesuai persyaratan sehingga tidak menyakiti hewan sembelihan.
Ukuran pisau disesuaikan dengan jenis hewan, misal untuk sapi panjang mata pisau minimal 30 sentimeter dan 20 sentimeter untuk kambing.
Idealnya, penyembelihan harus dilakukan oleh jagal yang telah tersertifikasi dari instansi berwenang yang dikenal dengan sebutan juru sembelih halal (juleha).
Namun, disaat juleha belum tersedia maka perannya dapat digantikan oleh orang yang mengerti dan memenuhi syarat sebagai jagal.
Sebagai informasi, kajian ilmiah telah membuktikan, penyembelihan Islami merupakan penyembelihan paling sempurna dan tidak menyakiti hewan sembelihan.
Dua ilmuwan dari Hannover University Jerman, Prof Dr Schultz dan Dr Hazim mempelajari tentang penyembelihan secara Islam murni (tanpa proses pemingsanan) dan penyembelihan ala Barat (dengan proses pemingsanan) yang selama ini sering diperdebatkan.
Cara Barat, proses penyembelihan dianggap sangat ”berperikehewanan” jika diawali dengan pemingsanan.
Biasanya dilakukan dengan berbagai teknik, diantaranya pembiusan, kejutan listrik, memukul bagian tertentu dari kepala ternak, atau menggunakan Captive Bolt Pistol (CBP).
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
| Ilusi Kesejahteraan dalam Angka Desil |
|
|---|
| Pak Harun, China, dan ‘Penguasa Baru’ Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kupi-Beungoh-Azhar-Abdullah-Panton.jpg)