Kupi Beungoh
Prabowo–Mualem: Blok Andaman, Mubadala, dan Asa Aceh - Bagian 5
Gas dalam jumlah besar ditemukan di Blok Andaman, dikelola oleh Mubadala Energy dari Uni Emirat Arab.
Dengan demikian, Blok Andaman—jika dikelola dengan strategis dan cepat—bisa menjadi penghela baru perekonomian nasional di sektor energi.
Presiden Prabowo Subianto merespons temuan gas raksasa ini dengan antusiasme dan ketegasan yang mencerminkan prioritas nasional terhadap ketahanan energi.
Dalam pidatonya di forum energi nasional awal tahun ini, Prabowo menyebut temuan 10 TCF oleh Mubadala sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, dan menandainya sebagai tonggak penting menuju swasembada energi nasional.
Ia menegaskan komitmennya untuk menyederhanakan regulasi dan mempercepat investasi, bahkan dengan pernyataan keras bahwa pejabat yang menghambat penyederhanaan akan diganti.
Lebih dari sekadar peluang ekonomi, Prabowo melihat Blok Andaman sebagai bagian dari strategi besar memperkuat kedaulatan energi dan memosisikan Indonesia—termasuk Aceh—dalam rantai pasok energi global yang baru.
Bagi Aceh sendiri, temuan ini mengandung janji dan juga pekerjaan besar.
Selama dua dekade otonomi, provinsi ini masih mencari jalannya untuk membangun struktur ekonomi baru pascakonflik dan pascatsunami.
Dana otonomi khusus yang besar tak selalu menjelma menjadi mesin transformasi struktural.
Baca juga: Mubadala Energy Targetkan Sumur Gas Blok South Andaman di Laut Aceh Berproduksi Tahun 2028
Tapi gas adalah sesuatu yang berbeda. Ia bukan hibah, bukan juga bagi-bagi dana tanpa arah.
Ia adalah sumber daya nyata yang menuntut kerja keras, visi teknokratik, kemampuan negosiasi, dan kesanggupan membangun sistem industri penunjang.
Jika ini berhasil, Aceh bukan hanya menjadi penerima hasil, tapi bisa naik kelas menjadi simpul energi dan logistik regional yang berdaya saing.
Mualem, Gubernur Aceh yang baru, datang di saat yang tepat. Dengan latar belakang militer dan sejarah panjang dalam dinamika Aceh modern, ia punya posisi unik untuk menjembatani politik lokal dan nasional.
Tantangannya jelas. Ia harus membuktikan bahwa Aceh bisa bekerja secara profesional, terbuka, dan proaktif dalam menyambut investasi strategis.
Apa artinya dari fenomena Blok Andaman ini ? Pemerintah Aceh harus segera menyiapkan perangkat hukum, kelembagaan, dan kapasitas teknis agar dampak ekonomi dari gas Andaman tak sekadar masuk ke laporan tahunan SKK Migas.
Tetapi benar-benar mengalir ke masyarakat: lewat lapangan kerja, pelatihan teknis, kemitraan industri, dan pembangunan kawasan sekitar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-32.jpg)