Kupi Beungoh
Prabowo–Mualem: Blok Andaman, Mubadala, dan Asa Aceh - Bagian 5
Gas dalam jumlah besar ditemukan di Blok Andaman, dikelola oleh Mubadala Energy dari Uni Emirat Arab.
Pemerintah pusat juga punya pekerjaan rumah. Keberadaan pelabuhan Sabang sebagai outerport harus ditinjau ulang dengan kacamata baru.
Bila sebelumnya selalu dipandang sebagai pelabuhan sekunder, maka dengan adanya potensi gas ini, Sabang dapat dikembangkan sebagai simpul logistik dan maritim utama di Selat Malaka bagian barat.
Sabang pada tahap awal, tidak harus menyaingi pelabuhan besar seperti Belawan atau Singapura, tapi bisa mengambil peran sebagai buffer hub, tempat redistribusi kargo, dan pangkalan energi cair.
Baca juga: Pelabuhan Sabang Siap Jadi Shorebase, Dukung Aktivitas Mubadala Energy di Blok Andaman
Dengan konektivitas ke hinterland Aceh dan perbatasan Thailand–Myanmar, Sabang dapat menjadi kota pelabuhan yang bekerja sama dengan, bukan melawan, logika perdagangan regional yang sudah terbentuk.
Namun peluang itu hanya akan berarti bila pemerintah Aceh mengubah cara kerjanya. Tidak bisa lagi sekadar berjalan lambat, menunggu komando dari pusat, atau berpusing dan sibuk dengan konflik internal.
Dalam dunia energi global, waktu adalah mata uang. Perizinan yang lambat, tarik ulur lahan, atau minimnya komunikasi antarlembaga bisa membuat investor kehilangan minat.
Mualem, dengan kredibilitas politik dan dukungan masyarakat, diharapkan mampu menciptakan iklim kerja yang baru. Ia harus cepat, transparan, dan fokus pada hasil.
Dan yang lebih penting. Ia harus mengintegrasikan energi ini ke dalam rencana pembangunan yang mencakup pendidikan vokasi, kesehatan masyarakat, dan infrastruktur desa.
Multiplier effect dari temuan gas ini sangat mungkin tercipta bila dikaitkan dengan pengembangan industri petrokimia.
Salah satu kemungkinan konkret adalah reindustrialisasi kawasan eks-Arun di Lhokseumawe, yang sudah memiliki warisan infrastruktur dan SDM dasar.
Baca juga: Prabowo - Mualem: Sabang, Sumitronomics, dan Agenda yang Belum Selesai – Bagian 4
Alternatif lainnya ialah pengembangan kawasan baru di lahan non-pertanian di Pidie, Bireuen, dan Aceh Besar, yang bisa disiapkan sebagai klaster industri berbasis gas, baik untuk pupuk, metanol, hingga LNG skala kecil. Pasar untuk industri ini juga bukan ilusi.
India Selatan, Bangladesh, Myanmar barat, hingga kawasan Thailand, semuanya merupakan pasar besar yang sedang tumbuh dan membutuhkan suplai energi maupun produk petrokimia secara berkelanjutan.
Di sinilah harapan terhadap Prabowo menjadi relevan. Ia bukan figur yang asing bagi Aceh, baik dalam sejarah maupun hubungan personal.
Kini, sebagai kepala negara, ia diharapkan tidak hanya melihat gas Andaman sebagai bagian dari strategi energi nasional, tetapi juga sebagai pintu untuk memperbaiki relasi antara pusat dan daerah.
Prabowo harus memberi ruang lebih besar kepada Aceh untuk mengambil peran sebagai pelaku utama, bukan hanya penonton.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-32.jpg)