Kamis, 30 April 2026

KUPI BEUNGOH

Banjir Aceh bukan Takdir Alam, Melainkan Akumulasi Kebijakan

Banjir yang melanda Aceh adalah puncak dari kegagalan tata kelola negara dalam melindungi lingkungan dan rakyatnya. 

Tayang:
Editor: Yocerizal
Serambinews.com/HO
Jakc Libya, Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat. 

Banjir yang melanda Aceh adalah puncak dari kegagalan tata kelola negara dalam melindungi lingkungan dan rakyatnya.

Baca juga: 75 Persen Desa di Warga Aceh Utara Terdampak Banjir, 69 Ribu Jiwa Masih Mengungsi, 185 Meninggal

Baca juga: VIDEO - PANAS! Venezuela Persenjatai Buruh Sipil, Bersiap Hadapi Invasi AS

Ia bukan takdir alam, tetapi cerminan nyata dari kebijakan yang mengutamakan kepentingan modal dan perizinan jangka pendek ketimbang keselamatan ekologis jangka panjang. 

Kejadian ini harus menjadi awal gugatan rinci terhadap praktik pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, bukan sekadar catatan statistik bencana.

Negara wajib melakukan evaluasi izin secara transparan dan ilmiah, menghentikan izin di kawasan kritis, serta membangun mekanisme pemulihan ekologis yang serius. 

Hutan dan DAS Aceh bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Mereka adalah sistem kehidupan yang menopang masa depan bangsa. 

Jika kerusakan ekologis terus dibiarkan, maka bukan hanya Aceh yang tenggelam, melainkan masa depan lingkungan hidup Indonesia secara keseluruhan.(*)

*) PENULIS adalah Juru Bicara KPA Pusat.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved