Pojok Humam Hamid
Bencana dan Model Kelembagaan R3P Aceh: Mengapa Harus Inklusif dan Partisipatif?
Peringatan yang disampaikan Raihal Fajri, aktivis perempuan Aceh senior, beberapa hari lalu melalui sejumlah media, perlu dibaca secara serius
Pemulihan yang adil dan berkelanjutan tidak lahir dari ruang tertutup, tetapi dari partisipasi, transparansi, dan keberanian mendengar suara mereka yang paling merasakan dampak bencana.
Jika R3P Aceh disusun secara inklusif dan partisipatif, Aceh memiliki peluang nyata untuk tidak hanya pulih, tetapi bangkit dengan fondasi sosial, ekologis, dan ekonomi yang lebih kuat.
Jika tidak, R3P berisiko menjadi dokumen resmi yang gagal menjawab pelajaran paling penting dari bencana Siklon Senyar25: bahwa krisis iklim dan kerusakan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan perubahan cara pandang, cara merencanakan, dan cara melibatkan warga.
*) PENULIS adalah Mantan Anggota Dewan Pengarah BRR Aceh Nias 2004 dan juga Mantan anggota Multi Donor Fund - EU, the US, World Bank, Jepang, Australia, dan Kanada untuk pembangunan Aceh Nias Paska Tsunami.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tokoh-masyarakat-sipil-Aceh-Ahmad-Humam-Hamid.jpg)