Selasa, 12 Mei 2026

Kupi Beungoh

Setengah Abad Aceh “Digigit” Anjing Gila

Hampir semua daerah di Aceh endemis rabies, kecuali Sabang dan Simeulue serta pulau-pulau sebelah barat Aceh. 

Tayang:
Editor: Yeni Hardika
FOR SERAMBINEWS.COM
Azhar Abdullah Panton, pemerhati masalah kesehatan masyarakat veteriner. 

Korbannya sebagian besar adalah anak-anak. 

Secara global, setiap sembilan menit rabies merenggut satu nyawa.

Tidak kurang dari 60.000 orang meninggal dunia setiap tahun dengan kerugian ditaksir mencapai 8,6 miliar dolar Amerika per tahun.

Mengapa Terus Terjadi?

Rabies akan terus terjadi jika populasi anjing liar tak terkendali, vaksinasi masih seadanya, dan pengawasan lalulintas HPR lemah.

Pengawasan lalulintas HPR antar wilayah, terutama wilayah-wilayah yang bebas rabies harus semakin diperketat.

Jika tidak, alih-alih membebaskan rabies dari daerah tertular, daerah historis bebas rabies pun akan tercemar.

Seperti yang dialami Pulau Flores (1997), NTB (2019), Bali (2008), Pulau Nias (2010), Pulau Larat (Maluku Tenggara Barat) dan dua pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya, Pulau Kisar dan Daweloor (2012). 

Pemilik HPR masih enggan memvaksin peliharaannya.

Baca juga: Menyoal Pembatasan JKA

Tidak menyediakan kandang sehingga bebas berkeliaran.

Sejatinya, pemilik HPR harus memperlakukan peliharaannya dengan baik dan menjalankan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.

Salah satunya adalah bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit.

Disinilah pemilik HPR bertanggung jawab untuk memvaksin peliharaannya agar tidak terjangkiti rabies.

Rabies adalah penyakit yang 100 % mematikan, namun juga 100 % bisa dicegah dengan vaksinasi.

Sosialisasi melalui strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) masih minim.

Selama ini KIE belum menyentuh alam sadar masyarakat akan bahaya rabies.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved