Pojok Humam Hamid
Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo
Chairul Tanjung mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mengganggu: bagaimana ekonomi disebut tumbuh jika banyak orang merasa hidup makin berat?
Oleh Dr Ir Ahmad Humam Hamid MA*)
Pada 22 Mei 2026, di Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, sebuah diskusi ekonomi berubah menjadi pembacaan tentang kondisi psikologis bangsa.
Di panggung itu, Chairul Tanjung mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mengganggu: bagaimana ekonomi disebut tumbuh jika banyak orang merasa hidup makin berat?
Di sisi lain, Purbaya Yudhi Sadewa menjawab dengan ketenangan teknokratis: indikator makro seperti pertumbuhan, konsumsi, inflasi, dan pengangguran belum menunjukkan tanda krisis struktural.
Di antara dua pernyataan itu, sebenarnya kita tidak sedang melihat perdebatan ekonomi biasa. Kita melihat benturan dua cara memahami realitas ekonomi.
Yang satu lahir dari pengalaman sosial sehari-hari. Yang lain lahir dari agregasi statistik.
Baca juga: Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional
Di tengah keduanya berdiri negara, yang diwakili Presiden Prabowo Subianto, yang tidak bisa memilih salah satu tanpa mengorbankan stabilitas yang lain.
Untuk memahami konteksnya, penting melihat posisi Chairul Tanjung. Ia bukan akademisi ekonomi, melainkan pengusaha besar yang membangun CT Corp di sektor ritel, media, keuangan, dan infrastruktur.
Ia membaca ekonomi bukan dari tabel statistik, tetapi dari perilaku konsumsi masyarakat.
Karena itu, pertanyaannya tidak datang dari ruang teoritis. Ia datang dari pengalaman panjang menghadapi realitas pasar sehari-hari.
Jika kita mengikuti cara pandang Chairul Tanjung, kita masuk ke wilayah yang sering diabaikan ekonomi arus utama: wilayah rasa.
Baca juga: Gubernur Aceh Mualem Bahas Isu Ekonomi hingga Persoalan JKA bersama Ulama
Dalam wilayah ini, angka tidak pernah cukup. Ekonomi bukan sekadar PDB, inflasi, atau neraca perdagangan.
Ekonomi adalah kemampuan hidup tanpa kecemasan terus-menerus.
Ia hadir dalam harga beras, ongkos transportasi, pekerjaan yang tidak pasti, dan masa depan yang terasa semakin sulit diprediksi.
CT berbicara dari dunia itu. Dunia di mana pertumbuhan ekonomi belum tentu berarti kesejahteraan menyebar merata.
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-Rihlah-Ibnu-Batutah.jpg)