Kupi Beungoh
Integritas dan Sistem Bercerai, Korupsi Berpesta
Indonesia dikenal religius, tetapi spiritualitas yang seharusnya menjadi benteng moral sering tak berdaya menghadang derasnya nafsu kuasa.
(1) penegakan hukum konsisten tanpa pandang bulu;
(2) reformasi politik dan birokrasi, transparansi dana kampanye, digitalisasi layanan publik; dan
(3) revolusi budaya integritas, pendidikan sejak dini, penguatan ajaran agama tentang amanah, dan keteladanan nyata pemimpin.
Menyalakan Nurani, Menegakkan Negeri
Bangsa besar tidak ditakar dari lantang pidato moral, melainkan dari keberanian menjadikannya nyata dalam sistem yang adil.
Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum, tetapi pengkhianatan terhadap amanah publik, perampasan masa depan, dan penistaan terhadap nilai peradaban.
Selama integritas tercerabut dari sistem, hukum akan kehilangan ruhnya, dan kekuasaan akan menjadi panggung bagi pesta korupsi yang tak pernah usai.
Namun sejarah selalu memberi teladan: dari Umar bin Abdul Aziz yang memadamkan lampu negara demi menjaga batas amanah, hingga Hoegeng dan Ahmad Dahlan yang menjadikan kejujuran sebagai jalan hidup.”
Gandhi menambahkan, “Bumi cukup untuk kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk keserakahan.”
Dari mereka kita belajar, integritas hanya bermakna ketika menyatu dengan sistem.
Kini pilihan ada di tangan kita, menyatukan kembali moral dengan hukum, iman dengan kekuasaan, atau membiarkan negeri ini terus menjadi ironi: religius di bibir, namun lapuk di hati.
Indonesia tidak ditakdirkan menjadi arena perampok berseragam kuasa, melainkan rumah yang bermarwah, tempat keadilan berpijak dan kebenaran menemukan suara.
*) PENULIS adalah Dosen Magister Keuangan Islam Terapan; Politeknik Negeri Lhokseumawe; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
religius tapi korup
religius tapi korupsi
syahwat kekuasaan
kupi beungoh
Serambi Indonesia
opini serambi
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framing Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir_Dosen-Magister-Keuangan-Islam-Terapan-Politeknik-Negeri-Lhokseumawe.jpg)