Rabu, 22 April 2026

KUPI BEUNGOH

Saatnya Prabowo Bawa Indonesia Bangkit dari Kegelapan

Ketika rakyat turun ke jalan, itu bukan sekadar riak, melainkan gelombang yang mengingatkan pemimpin bahwa ada jurang antara janji dan kenyataan.

Editor: Yocerizal
For Serambinews.com
Delky Nofrizal Qutni, Pemerhati Sosial Politik dari Sudut Warung Kopi. 

Data terkini memperkuat urgensi itu. Harga pangan dunia melonjak, nilai tukar rupiah sempat menembus Rp16.000 per dolar, inflasi pangan di beberapa daerah mencapai 7 persen.

Sementara tingkat pengangguran terbuka masih 5,2 persen atau setara dengan 7,8 juta orang. Lebih dari 60 persen pekerja berada di sektor informal yang rawan krisis. 

Baca juga: DKPP Vonis Komisioner Panwaslih Tak Layak Lagi Awasi Pemilu, Ketua KIP Banda Aceh juga Dicopot

Baca juga: Terlibat Penipuan Mobil di Aceh Utara, Hendri Dituntut 4 Tahun Penjara

Di pedesaan, 30 persen penduduk hidup sebagai petani gurem dengan lahan di bawah setengah hektare. Jika tanah mereka terus dikuasai korporasi dan tambang rakyat tetap dianggap ilegal, maka kemiskinan akan menjadi warisan turun-temurun. 

Kondisi saat ini juga menegaskan bahwa ketahanan pangan dan lapangan kerja harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar narasi kampanye. 

Koperasi Merah Putih yang pernah digaungkan bisa menjadi jawaban dengan menghubungkan petani, nelayan, dan masyarakat desa dalam satu rantai distribusi yang berdaulat, bukan tergantung pada impor yang setiap saat bisa diputus negara lain.

Pilih Rakyat atau Korporasi

Sejarah mengajarkan, setiap pemimpin besar lahir bukan di masa tenang, melainkan dalam guncangan. Dari Sukarno yang memimpin di tengah dekolonisasi hingga Soeharto yang bertahan di masa krisis pangan. Semua diukur bukan dari retorika, melainkan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat. 

Kini giliran Prabowo diuji, apakah ia akan memilih rakyat atau tunduk pada korporasi.

Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, melainkan keberpihakan. Mereka tidak meminta pemimpin tanpa salah, melainkan pemimpin yang mau mengakui salah dan memperbaikinya. 

Jika Prabowo berani menegaskan perintah kepada kepala daerah, legalkan tambang rakyat, matikan plasma semu, dan cabut izin korporasi yang menindas, maka Indonesia benar-benar bisa bangkit dari kegelapan. 

Tetapi jika tidak, maka sejarah hanya akan mencatatnya sebagai satu lagi pemimpin yang gagal membaca tanda zaman.

Bangsa ini masih punya harapan. Gelombang demonstrasi yang hari ini dianggap ancaman, sesungguhnya adalah energi rakyat yang bisa diarahkan menjadi kekuatan perubahan. 

Seperti dikatakan Sun Tzu, pemimpin besar bukan yang menaklukkan musuh, tetapi yang mampu menaklukkan krisis dengan menjadikan rakyat sebagai sekutunya. 

Baca juga: Syifak Muhammad Yus Rekanan Proyek Wastafel Jadi Tersangka

Baca juga: Materi Uji Seleksi Calon Anggota BMA Diduga di Luar Konteks, Peserta Protes

Jika Prabowo mampu memegang prinsip itu, maka ia tak hanya akan diingat sebagai Presiden, melainkan sebagai Bapak Bangsa yang berhasil membawa Indonesia keluar dari kegelapan menuju cahaya keadilan dan kemakmuran.

*) PENULIS adalah Pemerhati Sosial Politik dari Sudut Warung Kopi

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved