Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Tiga Indra, Aceh Lhee Sagoe, dan “Soft Hegemonic Transition” - Bagian XI
Sejarah Aceh, khususnya proses Islamisasinya, justru menawarkan kisah transisi yang halus dan cerdas--sebuah proses yang tidak menghapus masa lalu
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
DALAM sejarah Nusantara, perubahan besar seringkali digambarkan sebagai momen yang dramatis dan radikal--kerajaan runtuh, kepercayaan lama tersingkir, dan sistem baru mengambil alih secara total.
Namun, narasi semacam ini terlalu menyederhanakan kenyataan yang jauh lebih kompleks.
Sejarah Aceh, khususnya proses Islamisasinya, justru menawarkan kisah transisi yang halus dan cerdas--sebuah proses yang tidak menghapus masa lalu, melainkan mengislamkannya, mengadaptasinya, dan menjadikannya bagian dari kekuasaan baru.
Di sini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai “soft hegemonic transition”, yaitu pergeseran kekuasaan dan ideologi secara bertahap, damai, dan penuh negosiasi simbolik.
Nama-nama seperti Indrapatra, Indrapuri, dan Indrapurwa menjadi saksi bisu dari masa lalu Aceh yang sarat dengan pengaruh Hindu-Buddha.
Ketiganya bukan sekadar penanda geografis, melainkan representasi kekuasaan, spiritualitas, dan struktur sosial yang telah tertanam lama di bumi Serambi Mekkah sebelum kedatangan Islam.
“Indra” adalah nama dewa utama dalam kosmologi Hindu, simbol kekuasaan langit dan pelindung para raja.
“Patra” berarti pintu atau gerbang, “puri” adalah istana, dan “purwa” merujuk pada tempat awal atau pusat kesucian.
Nama-nama ini menunjukkan bahwa sebelum Islam masuk, Aceh sudah mengenal konsep kekuasaan sakral, tempat-tempat suci, dan struktur pemerintahan spiritual yang kokoh.
Namun ketika Islam datang, tempat-tempat ini tidak dihancurkan atau ditinggalkan.
Sebaliknya, mereka diintegrasikan ke dalam narasi Islam baru.
Salah satu contoh paling mencolok adalah Masjid Indrapuri, yang dibangun di atas bekas kuil Hindu-Buddha.
Bangunan ini menjadi simbol nyata dari proses transformasi--bukan dekonstruksi.
Artinya, Islamisasi di Aceh tidak menolak masa lalu, tetapi mengislamkannya dengan cermat.
Meaningful
pojok humam hamid
sejarah Aceh
sejarah aceh lhee sagoe
sejarah hindu di aceh
opini serambinews
humam hamid aceh
sejarah kerajaan aceh
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-4.jpg)