KUPI BEUNGOH
PT PEMA: Mitos Industrialisasi tanpa Fondasi
Bila investasi dilakukan tanpa fondasi ekonomi yang jelas, investor akan menuntut jaminan konkret dari pemerintah.
Oleh: Rizki Ardial *)
SETIAP kali berbicara tentang masa depan ekonomi Aceh, nama PT Pembangunan Aceh (PEMA) hampir selalu muncul di panggung.
Ia diperkenalkan sebagai tangan ekonomi Pemerintah Aceh, simbol kemandirian dan instrumen utama untuk keluar dari ketergantungan pada dana otonomi khusus.
Namun kini, PEMA justru menjelma menjadi simbol paling nyata dari mitos industrialisasi tanpa fondasi: besar dalam narasi, kecil dalam kapasitas; rajin bermimpi, malas membangun.
PEMA lahir dari keyakinan bahwa kekayaan sumber daya alam Aceh yang melimpah cukup menjadi modal industrialisasi.
Namun keyakinan itu berhenti pada ritual kelembagaan, mendirikan perusahaan tanpa desain institusional yang matang, tanpa direksi profesional, dan tanpa strategi bisnis bertahap.
Tidak ada feasibility study yang komprehensif, tidak ada peta bisnis yang realistis, dan tidak ada strategi pembangunan kapasitas yang berkelanjutan.
Yang tumbuh hanyalah retorika megah: kemandirian energi, ekonomi hijau, dan investasi migas internasional. Semuanya terdengar progresif, tetapi nihil substansi.
Inilah wajah klasik pembangunan tanpa fondasi: kelembagaan menggantikan kapasitas, simbol menggantikan kerja nyata. Di atas kertas, Aceh memiliki perusahaan daerah; di lapangan, rakyat tidak merasakan nilai tambah apa pun.
Dalam beberapa waktu terakhir, PEMA sering tampil di berbagai seremoni besar, penandatanganan MoU dengan perusahaan asing, proyek karbon, hingga energi hijau. Namun semua berhenti di level publikasi, bukan produksi.
Tidak ada rantai pasok yang terbentuk, tidak ada lapangan kerja yang tumbuh, tidak ada aliran nilai ekonomi ke bawah.
Padahal, dalam logika industrialisasi sejati, seremoni bukanlah capaian, melainkan awal dari proses panjang yang membutuhkan konsistensi teknis dan manajerial.
Baca juga: Gila! Harga Emas Dunia Terus Melonjak Tajam, Diprediksi Bisa Sentuh 5.000 USD
Baca juga: Maling Jarah Gedung Pemerintah Aceh Timur yang Belum Berfungsi, Kerugian Ditaksir Capai Rp 200 Juta
PEMA seperti anak yang baru belajar berenang tetapi sudah terjun ke laut dalam. Mereka berbicara tentang energi global, padahal sistem listrik Aceh sendiri belum terintegrasi sepenuhnya.
Dua zona besar di Aceh: Barat-Selatan dan Timur-Utara, masih hidup dalam sistem energi terpisah. Ketika infrastruktur dasar belum siap, ambisi global justru akan berubah menjadi sandiwara ekonomi.
Beberapa proyek bernilai miliaran rupiah yang digagas PEMA sejatinya dapat menjadi growth engine bagi perekonomian Aceh. Namun yang tampak justru ketimpangan antara visi dan realitas.
Opini Kupi Beungoh Rizki Ardial
Lingkar Publik Strategis
Opini Rizki Ardial tentang PT PEMA
Opini Kritis untuk PT PEMA
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rizki-Ardial_1.jpg)