Breaking News
Kamis, 30 April 2026

Pojok Humam Hamid

Dana Otsus Jilid 2: Lagu Lama vs Otoritas Teknokratis – Bagian Kedua

Politik menentukan arah, teknokrasi memastikan arah itu ditempuh dengan ilmu, bukan emosi.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Dengan sistem kerja seperti think-tank resmi yang dilengkapi pusat data dan riset, lembaga ini menjadi otak kolektif bagi pembangunan Aceh--tempat di mana universitas, birokrasi, ulama, dan dunia usaha bertemu untuk menimbang masa depan bersama. 

Ini bukan lembaga untuk membagi proyek, melainkan untuk menjaga mimpi tetap hidup.

Keuntungannya jelas, pembangunan Aceh akan menjadi lebih konsisten, efisien, dan terarah. 

Program lintas sektor akan selaras, tidak saling tumpang tindih. 

Hubungan Aceh–Pusat menjadi lebih rasional dan harmonis. 

Dana publik digunakan dengan perhitungan jangka panjang. 

Di atas semua itu, lembaga ini akan melahirkan generasi baru teknokrat lokal--perencana, ekonom, dan insinyur yang berpikir melampaui politik harian. 

Inilah investasi pengetahuan yang sesungguhnya, membangun manusia yang mampu merancang masa depan, bukan sekadar mengelola masa kini.

Sebagian mungkin berkata, bukankah teknokrasi berisiko menyingkirkan aspirasi rakyat? 

Pertanyaan ini sah. 

Tapi jawabannya sederhana, tidak ada demokrasi yang sehat tanpa rasionalitas. 

Tanpa lembaga yang menjamin kesinambungan kebijakan, demokrasi hanya akan melahirkan kegaduhan lima tahunan. 

Politik tanpa teknokrasi seperti kapal tanpa peta, berlayar, tapi tersesat. 

Itu yang telah terjadi selama 20 tahun terakhir.

Hal itu pula yang terjadi dimana mana- kawasan, negara, yang gagal membangun di seluruh dunia.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved