Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IX) - Mungkinkah Putin “Salah Hitung” di Ukraina?

Gejala pertama yang sudah mulai terlihat adalah kecepatan pengusaan wilayah, terutama penaklukan ibu Kota Kiev.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Foto Maret 2022). 

Optimisme Putin yang tidak mau menyebutkan istilah perang untuk invasi Ukriana juga adalah cermin percaya diri yang berlebihan.

Di Rusia hari ini, media dilarang keras oleh pemerintah untuk menulis kata “perang”.

Kata yang digunakan adalah “operasi khusus militer”-sebuah istilah yang menggambarkan hanya pengerahan skala kecil tentara untuk pembebasan Ukraina yang asumsinya adalah akan sangat cepat.

Halangan perlawanan dari tentara dan rakyat Ukraina bagaimanapun tidak akan sebanding dengan kekuatan raksasa tentara Rusia.

Akan tetapi pertanyaannya kemudian, apakah kekuatan moral tentara dan rakyat Ukraina akan sebanding dengan kekuatan moral tentara Rusia?

Penjelasan tentang kalahnya dua negara adikuasa -AS, Uni Soviet/Rusia di Vietnam dan Afghanistan menunjukkan kekutan moral rakyat dan tentara adalah kunci penting kemenangan  akhir.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (V), Laboratorium Suriah Putin, untuk Ukraina?

Bab Panjang Perang di Ukraina

Perang dan kekerasan yang sedang terjadi hari ini bukanlah sesuatu yang baru di Ukraina.

Perang, darah, dan kematian telah menjadi beberapa bab panjang dalam sejarah Ukraina dan Eropa. 

Antara abad 9-15, Ukraina telah mengalami 40 peperangan baik antara penguasa Ukraina-Rusia dengan negara luar, atau peperangan antara kekuatan luar yang menyeret Ukraina di kawasan Ukraina.

Tercatat nama Byzantium, Ottoman, Mongol, dan Astro Hungary sebagai kekuatan besar yang pernah terlibat

Selanjutnya selama 300 tahun kemudian, abad 16-18 Ukraina mengalami 14 kali peperangan dan pemberontakan.

Pada abad ke 17, selama 15 tahun, 1602-1617 imperium Ottoman atau Turki Usmani pernah berperang dengan Ukraina sebanyak 10 kali.

Sebelum merdeka menjadi republik yang pada umumnya melawan Rusia.

Setelah bubarnya Uni Soveit, dengan Rusia pun sebenarnya Ukraina telah berperang lebih dari 25 kali, termasuk perang yang sedang berlangsung hari ini.

Sejarah tentang darah, penderitaan dan kematian rakyat Ukraina ditulis dengan cukup terang oleh Timothy Saiders, Profesor Sejarah Universitas Yale, dalam bukunya “Bloodlans” (2010).

Ia hanya memberi fokus kepada korban akibat tingkah dan perlakuan dua tiran besar sejarah, Hitler dan Stalin terhadap rakyat Ukraina.

Korban rakyat Ukraina dalam perang Dunia ke II mencapai lebih dari 6,8 juta orang, karena salah satu front Timur Jerman merasuk ke Uni Soviet melalui Ukraina.

Dari jumlah 6,8 juta korban itu, 1.4 juta jiwa adalah tentara Ukraina yang menjadi bagian dari tentara Uni Soviet.

Ukraina mengalami paling kurang empat gelombang perang Perang Dunia ke 2, berhadapan dengan Nazi Jerman, dan bahkan dengan Uni Soviet, ketika perang usai.

Kematian rakyat Ukraina ketika bergabung dengan komunis Rusia juga tidak sedikit.

Walaupun Ukraina sampai hari ini produsen gandum terbesar Eropa, dan menjadi sumber impor sebagian besar negara Timur Tengah, Stalin pernah membuat rakyat Ukraina menderita kelaparan antara tahun 1930-1933.

Kasus kelaparan yang dikenal dengan istilah Holodomor adalah ujicoba Stalin untuk koletikvisasi pertanian rakyat Ukraina yang gagal, yang membuat 7 juta rakyat negeri itu mati kelaparan. (Applebaum, 2017)

Baca juga: Rusia Bantah Minta Bantuan Militer China Untuk Memperkuat Serangan ke Ukraina

Baca juga: Demonstran Ukraina di Melitopol, Menuntut Tentara Rusia Kembalikan Wali Kota yang Diculik

Tak Bisa Dianggap Enteng

Berbagai episode perang dan sejarah kekerasan yang telah terjadi itu sedikitnya memberi penjelasan tentang betapa perkiraan kecepatan penguasaan Ukraina oleh tentara Putin, kali ini akan berhadapan dengan kekuatan moral tentara dan rakyat Ukrina yang tidak bisa dianggap enteng.

Endapan pengalaman dan memori kolektif rakyat Ukraina terhadap kekerasan, perang, kematian, dan darah, mungkin saja luput dari catatan Putin tentang kompleksitas penaklukan yang akan dihadapi Rusia.

Bahwa lambat atau cepat, ibu kota Kiev dan Ukraina akan jatuh ke tangan Rusia, tidak ada satu pihak pun yang berani mengatakan tidak akan terjadi.

Karena, semakin kuat perlawanan yang diberikan oleh Ukraina, akan semakin kuat pula pengerahan mesin perang Rusia, dan akan semakin banyak pula korban masyarakat sipil akan terjadi.

Kemungkinan besar Rusia akan memenangkan peperangan fase awal di Ukraina.

Sejarah menyebutkan memenangkan perang satu perkara, namun memenangkan damai perkara lain lagi.

Memenangkan damai tidak mampu dilakukan oleh AS di Afghanistan.

Setelah 20 tahun berperang, tahun kemarin AS keluar dari Afghanstan dengan status kalah dan gagal.

Memenangkan damai juga tidak mampu diraih Rusia/Uni Soviet di Afghanistan 41 tahun yang lalu.

Kekuatan moral dan spritual pada akhirnya mengalahkan berbagai persenjataan modern.

Di sebalik perang bersenjata, apakah kalkulasi Putin dalam hal perang ekonomi telah benar dan tepat?

Apakah boikot impor minyak Rusia oleh Barat telah dihitung oleh Putin dengan benar?

Apakah kesetiaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kepada Rusia untuk tidak menikkan produksi dalam kontekes solidaritas negara pengekspor minyak -OPEC akan bertahan?

Bagaimana jika kedua negara itu mendapat ancaman dari Barat dalam berbagai bentuk, bila tidak menikan produksinya?

Apakah benar benar Eropa sangat tergantung dengan energi Rusia?

Bagaimana jika mereka, terutama Jerman akan kembali kepada energi nuklir seperti yang baru saja dinyatakan oleh pemerintah Jerman.

Bagaimana jika embargo AS untuk Saudi Arabia dan UAE tentang pasokan spare part F-16 dan rencana pembelian F-35  untuk menyerang pemberontakan  Houthi dicabut?

Akankah berita “tidak mau terima” telepon Joe Bidden, dari pangeran MBS Saudi, dan Pangeran Mohammad berkelanjutan?

Jika embargo itu dicabut, akankah puluhan oligarkhi Biden yang melarikan diri dan sebagian kekayannya ke Dubai akan diperbolehkan untuk tinggal?

Akankah Ukraina menjadi Afghanistan kedua kepada Rusia?

idak ada seorangpun yang mampu menjawabnya.

Perang ini akan menjadi perang yang paling mahal yang mungkin pernah dialami oleh Rusia semenjak tahun 1991. Apa sebabnya?

Karena  perbatasan  darat Ukraina bersebelahan dengan lebih dari 1500 kilometer berbatasan Polandia, Romania, Hungaria, dan Slovakia, yang semuanya adalah negara anggota NATO yang jelas memihak dan membantu habis-habisan Ukraina.

Itu belum lagi perbatasan dengan Moldovia yang panjang 1,200 kilometer yang terus merengek untuk diterima menjadi anggota NATO.

Selama ada perlawanan dari tentara dan rakyat Ukraina terhadap Rusia,-seandainya Rusia berhasil, selama itu pula akan ada berbagai bantuan untuk perlawanan itu, dan itulah 3.000 kilometer Ukraina dengan negara yang antipendudukan Rusia di Ukraina.

Kalau itu terjadi, maka akan ada perang panjang Eropa, yang kembali seperti abad ke 18 dan 19.

Kini hanya ada satu peluang yang terbuka untuk Putin.

Ia harus memenangkan perang secara mutlak dengan cara secepat-cepatnya, untuk kemudian berunding dengan AS dan sekutunya yang tergabung dalam dalam NATO.

Jika hanya mampu mengambil alih Kiev, dan mampu mengganti dengan pemerintahan boneka Moscow, apakah persoalannya akan selesai?

Bagaimana dengan menundukkan perlawanan 40 juta penduduk dari negara yang luasnya terbesar kedua di Eropa setelah Rusia?

Dalam sejarah perang klasik kemenangan perang yang yang paling tidak diinginkan adalah kemenangan dengan tragedy yang disebut “pyrrhic victory”.

Istilah ini berasal sejarah perang yang dipimpin raja Pyrrhus dari Epirus-terletak antara Yunani dan Albania, yang memerangi tentara Roma pada dua setengah abad sebelum Masehi.

Raja Phyrus memenangkan kedua Perang dengan Romawi, Asculum, 279 sebelum Masehi, dan Hercalea 280 sebelum Masehi.

Kemenangan itu diperoleh, tetapi sangat tidak sebanding dengan korbanan materi dan manusia yang cukup banyak.

Uni Sovier/Rusia AS pernah mengalami kemengan Pyrrhic di Afganistan. 

Bahkan, tidak salah kalau invasi dan  pendudukan Indonesia  di Timor Timur yang sempat bergabung dengan Indonesia selama 23 tahun lebih, untuk kemudian lepas kembali dan menjadi negara dapat juga digolongkan dalam kategori “pirrhic victory”

Akankah Putin tidak salah hitung? Waktulah yang akan menentukannya.(BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved