KUPI BEUNGOH
Antara Iman dan Trauma: Tantangan Bicara Kesehatan Mental di Aceh
Tekanan sosial bukan hanya kalangan bawah yang mengalaminya, dia tidak memandang usia serta siapa.
Kondisi tersebut terlihat tidak sulit, namun dampaknya sangat signifikan. Dikarenakan minimnya dukungan sosial, tidak adanya bantuan seperti kasus bencana alam.
Baca juga: Partai Golkar Aceh Satu-satunya Partai yang di Monev KIA
Baca juga: Kader PA Kumpul di Aceh Timur Ikuti Bimtek dan Rapim
Banyak yang menyembunyikan penderitaan karena malu, memendamkan sendiri, tidak ada ruang diskusi. Kondisi tersebut bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga sudah merambat ke daerah-daerah.
Pergeseran nilai sosial dan tekanan ekonomi membuat banyak orang kehilangan keseimbangan antara spiritualitas, pekerjaan, dan kehidupan pribadi.
Manusia modern dipaksa kuat secara fisik, tapi perlahan rapuh di dalam, yang pada akhirnya menyebabka kematian bunuh diri meningkat.
Kalimat Ajaib
Pernahkan kita mendengar kalimat yang bisa mengubah semangat kehidupan seseorang menjadi lebih semangat di tengah serba tuntutan kehidupan yang hampir menyerah dengan keadaan?
Hanya dengan sebuah kalimat, "apakah kamu sungguh baik-baik saja?" atau bahkan kita sendiri belum pernah bertanya kepada orang-orang terdekat kita.
Sayangnya kalimat itu masih belum menyebar di kalangan masyarakat. Semua kalangan tampak sibuk bertahan mengejar harapan dan hampir semua ingin terlihat kuat.
Bahkan ketika kondisi tubuh sudah memberikan sinyal bahwa tanda tidak baik-baik saja, hal itu masih terabaikan.
Mulai sekarang kita sendiri yang mempraktekkan di lingkungan sekitar, dengan peran kita masing-masing. Karena setiap peran itu akan berdampak terhadap lingkungan.
Jika kata-kata 'ajaib' ini terus terdengar di setiap rumah, lembaga, pendidikan, lingkungan pekerjaan, pertemanan, maka kondisi yang awalnya tidak baik-baik saja akan berubah seketika.
Baca juga: BREAKING NEWS - Geger Diduga Tengkorak Manusia Ditemukan di Material Pasir di Aceh Selatan
Baca juga: VIDEO Kisah Sultan Fana dari Wonogiri: Tarman dan Mahar Rp3 M yang Cuma Prank Semesta
Seolah-olah jiwa raga ini saling terkoneksi bersama untuk memberikan energi serta kekuatan yang lebih baik.
Mari kembali sama-sama menguatkan iman kembali kepada sang Pencipta dengan penuh keyakinan sehingga terjawab bahwa apa arti hidup yang sesungguhnya. Bukan hanya doa yang diucapkan, tapi juga dalam ketulusan menerima.
Sebab kesehatan mental sejati bukan hanya tentang pikiran yang warah, melainkan tentang hati yang damai, penuh syukur.
Di saat dunia semakin bising, yang paling menyembuhkan adalah kembali kepada kesunyian iman tempat dimana jiwa akhirnya bisa pulang.(*)
*) PENULIS adalah Sahabat Saksi dan Korban wilayah Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Miftahul Jannah
Opini Miftahul Jannah
Opini Kupi Beungoh Miftahul Jannah
Opini Kesehatan Mental di Aceh
| Ilusi Kesejahteraan dalam Angka Desil |
|
|---|
| Pak Harun, China, dan ‘Penguasa Baru’ Dunia |
|
|---|
| Alokasi TKD Bencana Tak Adil, Bukti Nyata Bobroknya Keadilan Kebijakan |
|
|---|
| Menjaga Ruh Keistimewaan Aceh melalui MPA, MAA, dan Badan Dayah |
|
|---|
| Arsitek Transformasi UIN Ar-Raniry: Kepemimpinan Visioner dan Harmonis Prof Mujiburrahman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Miftahul-Jannah_1.jpg)