Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Antara Iman dan Trauma: Tantangan Bicara Kesehatan Mental di Aceh

Tekanan sosial bukan hanya kalangan bawah yang mengalaminya, dia tidak memandang usia serta siapa.

Editor: Yocerizal
IST/SERAMBINEWS.COM
Miftahul Jannah, Sahabat Saksi dan Korban wilayah Aceh. 

Banyak relawan dari semua lini sedang berjuang bersama dalam meningkatkan proses pemulihan, dari tenda ke tenda yang membuat berbagai macam kegiatan. 

Mulai dari layanan dukungan kesehatan mental seperti konseling, terapi, pendampingan-pendampingan di setiap kalangan usia. 

Dari kisah bencana tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa setiap kesulitas pasti ada kemudahan. Berkat adanya dukungan dari semua kalangan, maka kondisi tersebut mulai membaik dari segala sisi. 

Meskipun sampai saat ini masih menyimpan trauma kesehatan mental akibat kehilangan, tapi kondisi jauh lebih membaik.

Kesehatan Mental Pascatsunami Vs Ekonomi 

Lantas apa yang membedakan kesehatan mental pascatsunami dengan tingginya kasus kesehatan mental saat ini? 

Meskipun sama-sama membutuhkan waktu pemulihan jangka panjang, nyatanya pemulihan kesehatan mental pasca-bencana lebih cepat teratasi dibandingkan dengan yang di sebabkan oleh ekonomi dan tuntutan hidup jangka pajang. 

Baca juga: Irak Pulangkan Indonesia, Erick Thohir Minta Maaf: Mimpi Masuk Piala Dunia Belum Bisa Kami Wujudkan

Baca juga: Gubernur Aceh Mualem Beri Sanksi Penambang Emas Ilegal Bila Tidak Patuh Ultimatum

Mengapa demikian? Karena bencana alam berupa trauma mendesak, seperti kehilangan orang tercinta, harta benda bahkan rasa aman. 

Semua terasa sangat berat, namun seiring berjalannya waktu setelah kondisi lingkungan stabil dan bantuan sosial datang, pemulihan secara tidak langsung mulai membaik. 

Karena masyarakat saling mendukung, baik dari segi pemerintah. Korban tidak merasa sendiri serta lingkungan sosial berfungsi sebagai terapi alami. 

Terus kenapa tekanan sosial tuntutan hidup atau stres kronis pemulihan bisa lebih lama? Hal itu dikarenakan tidak muncul secara tiba-tiba, tapi menumpuk secara perlahan, rasa lelah, putus asa, cemas terkait keuangan, tekanan kerja hingga kehilangan makna hidup. 

Sumber stres yang terus berulang seperti harga pasar naik, krisis keuangan, terlibat dalam pinjaman, tuntutan keluarga bahkan hingga persaingan kerja. 

Kehidupan sekarang bergerak begitu cepat seolah setiap orang berlomba tanpa garis akhir. Di era digital dan ekonomi yang tidak pasti, manusia hiduo di bawah tekanan untuk selalu produktif, sukses dan terlihat bahagia. 

Media sosial memperkuat ilusi bahwa semua orang sedang berhasil, sementara banyak yang sebenarnya sedang berjuang di balik layar. 

Tuntutan zaman membuat banyak orang merasa harus selalu bisa, bekerja lebih keras, belahar tanpa henti, menjadi orang tua yang ideal atau mencapai standar yang kadang tidak realistis, dalam kejar target serta pembuktian diri. 

Kesehatan mental sering menjadi korban yang paling sunyi. Rasa lelah di anggap wajar, stres dianggap tanda ketidakmampuan dan meminta bantuan sering di anggap kelemahan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved