Rabu, 22 April 2026

KUPI BEUNGOH

Antara Iman dan Trauma: Tantangan Bicara Kesehatan Mental di Aceh

Tekanan sosial bukan hanya kalangan bawah yang mengalaminya, dia tidak memandang usia serta siapa.

Editor: Yocerizal
IST/SERAMBINEWS.COM
Miftahul Jannah, Sahabat Saksi dan Korban wilayah Aceh. 

Oleh: Miftahul Jannah, SKM.,MKM *)

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ۝٥ إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ۝٦ 

Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Q.S Al-Insyirah ayat 5-6.

DI tengah hiruk pikuk kehidupan sebagian orang mungkin yang hampir menyerah dengan keadaan. Baik orang tua yang memikirkan keluarganya. Seorang ayah yang keluar mencari nafkah dengan ketidak pastian apa yang akan di bawa pulang. Ada jiwa ibu yang selalu mengusakan yang terbaik untuk anaknya semua. 

Dia rela mengorban waktu tanpa istirahat, dan anak yang sedang berjuang menempuh pendidikan di era gempuran dengan tuntutan yang tinggi tapi masih minim dukungan. 

Dan mungkin ada sebuah keluarga yang sedang membutuh iuran tangan demi keselamatan dirinya dan anaknya dari sebuah kekerasan rumah tangga. Bukan hanya sebuah keluarga, tetapi banyak di luar sana mengalami hal yang serupa tapi beda alur cerita. 

Coba kita perhatikan di balik layar sebuah lembaga yang sedang berjuang memenuhi berbagai target dan tingginya tuntutan di tengah efisiensi anggaran, sebuah intitusi yang seharusnya menjadi tempat tumbuh justru berubah menjadi mesin tekanan. 

Ambisi untuk mencapai hasil seringkali mengorbankan sisi kemanusia, karyawan yang kelelahan, relasi kerja yang renggang, hingga hilangnya empati di antara sesama. Mungkin kisah ini bisa mewakili isi hati para karyawan. 

Tekanan sosial bukan hanya kalangan bawah yang mengalaminya, dia tidak memandang usia serta siapa. 

Dia hadir ketika realita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Secara tidak lansung, perlahan demi perlahan akan masuk ke dalam jiwa seseorang akan mengubah isi pikiran. 

Mulai dari kebiasaan, perkataan, rasa bersalah terhadap diri sendiri, serta tidak sedikit yang berujung kematian di semua kalangan. 

Kesehatan Mental 

Kesehatan mental bukan hanya isu baru saat ini. Di Aceh semenjak terjadi Tsunami tanggal 26 Dember 2004 silam, semua mempengaruhi mental masyarakat Aceh akibat bencana yang melanda. 

Baca juga: Mengungkap Realitas LGBTQ di Banda Aceh, Pernikahan yang Terkoyak Homoseksual

Baca juga: HIV/AIDS Meningkat Signifikan, Didominasi Seks Sesama Lelaki

Tidak ada dalam bayangan bencana sebesar itu terjadi di tanah rencong. Hampir semua keluarga kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda. 

Bencana itu membuat hampir semua masyarakat Aceh mengalami ketakutan atau trauma yang mendalam terhadap kehilangan dampak dari bencana. 

Banyak negara yang terlibat membantu pemulihan pada saat itu, baik dari sektor kesehatan, pangan, ekonomi, properti, bahkan masih banyak lainnya. 

Banyak relawan dari semua lini sedang berjuang bersama dalam meningkatkan proses pemulihan, dari tenda ke tenda yang membuat berbagai macam kegiatan. 

Mulai dari layanan dukungan kesehatan mental seperti konseling, terapi, pendampingan-pendampingan di setiap kalangan usia. 

Dari kisah bencana tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa setiap kesulitas pasti ada kemudahan. Berkat adanya dukungan dari semua kalangan, maka kondisi tersebut mulai membaik dari segala sisi. 

Meskipun sampai saat ini masih menyimpan trauma kesehatan mental akibat kehilangan, tapi kondisi jauh lebih membaik.

Kesehatan Mental Pascatsunami Vs Ekonomi 

Lantas apa yang membedakan kesehatan mental pascatsunami dengan tingginya kasus kesehatan mental saat ini? 

Meskipun sama-sama membutuhkan waktu pemulihan jangka panjang, nyatanya pemulihan kesehatan mental pasca-bencana lebih cepat teratasi dibandingkan dengan yang di sebabkan oleh ekonomi dan tuntutan hidup jangka pajang. 

Baca juga: Irak Pulangkan Indonesia, Erick Thohir Minta Maaf: Mimpi Masuk Piala Dunia Belum Bisa Kami Wujudkan

Baca juga: Gubernur Aceh Mualem Beri Sanksi Penambang Emas Ilegal Bila Tidak Patuh Ultimatum

Mengapa demikian? Karena bencana alam berupa trauma mendesak, seperti kehilangan orang tercinta, harta benda bahkan rasa aman. 

Semua terasa sangat berat, namun seiring berjalannya waktu setelah kondisi lingkungan stabil dan bantuan sosial datang, pemulihan secara tidak langsung mulai membaik. 

Karena masyarakat saling mendukung, baik dari segi pemerintah. Korban tidak merasa sendiri serta lingkungan sosial berfungsi sebagai terapi alami. 

Terus kenapa tekanan sosial tuntutan hidup atau stres kronis pemulihan bisa lebih lama? Hal itu dikarenakan tidak muncul secara tiba-tiba, tapi menumpuk secara perlahan, rasa lelah, putus asa, cemas terkait keuangan, tekanan kerja hingga kehilangan makna hidup. 

Sumber stres yang terus berulang seperti harga pasar naik, krisis keuangan, terlibat dalam pinjaman, tuntutan keluarga bahkan hingga persaingan kerja. 

Kehidupan sekarang bergerak begitu cepat seolah setiap orang berlomba tanpa garis akhir. Di era digital dan ekonomi yang tidak pasti, manusia hiduo di bawah tekanan untuk selalu produktif, sukses dan terlihat bahagia. 

Media sosial memperkuat ilusi bahwa semua orang sedang berhasil, sementara banyak yang sebenarnya sedang berjuang di balik layar. 

Tuntutan zaman membuat banyak orang merasa harus selalu bisa, bekerja lebih keras, belahar tanpa henti, menjadi orang tua yang ideal atau mencapai standar yang kadang tidak realistis, dalam kejar target serta pembuktian diri. 

Kesehatan mental sering menjadi korban yang paling sunyi. Rasa lelah di anggap wajar, stres dianggap tanda ketidakmampuan dan meminta bantuan sering di anggap kelemahan. 

Kondisi tersebut terlihat tidak sulit, namun dampaknya sangat signifikan. Dikarenakan minimnya dukungan sosial, tidak adanya bantuan seperti kasus bencana alam. 

Baca juga: Partai Golkar Aceh Satu-satunya Partai yang di Monev KIA

Baca juga: Kader PA Kumpul di Aceh Timur Ikuti Bimtek dan Rapim

Banyak yang menyembunyikan penderitaan karena malu, memendamkan sendiri, tidak ada ruang diskusi. Kondisi tersebut bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga sudah merambat ke daerah-daerah. 

Pergeseran nilai sosial dan tekanan ekonomi membuat banyak orang kehilangan keseimbangan antara spiritualitas, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. 

Manusia modern dipaksa kuat secara fisik, tapi perlahan rapuh di dalam, yang pada akhirnya menyebabka kematian bunuh diri meningkat. 

Kalimat Ajaib

Pernahkan kita mendengar kalimat yang bisa mengubah semangat kehidupan seseorang menjadi lebih semangat di tengah serba tuntutan kehidupan yang hampir menyerah dengan keadaan?

Hanya dengan sebuah kalimat, "apakah kamu sungguh baik-baik saja?" atau bahkan kita sendiri belum pernah bertanya kepada orang-orang terdekat kita. 

Sayangnya kalimat itu masih belum menyebar di kalangan masyarakat. Semua kalangan tampak sibuk bertahan mengejar harapan dan hampir semua ingin terlihat kuat. 

Bahkan ketika kondisi tubuh sudah memberikan sinyal bahwa tanda tidak baik-baik saja, hal itu masih terabaikan. 

Mulai sekarang kita sendiri yang mempraktekkan di lingkungan sekitar, dengan peran kita masing-masing. Karena setiap peran itu akan berdampak terhadap lingkungan. 

Jika kata-kata 'ajaib' ini terus terdengar di setiap rumah, lembaga, pendidikan, lingkungan pekerjaan, pertemanan, maka kondisi yang awalnya tidak baik-baik saja akan berubah seketika. 

Baca juga: BREAKING NEWS - Geger Diduga Tengkorak Manusia Ditemukan di Material Pasir di Aceh Selatan

Baca juga: VIDEO Kisah Sultan Fana dari Wonogiri: Tarman dan Mahar Rp3 M yang Cuma Prank Semesta

Seolah-olah jiwa raga ini saling terkoneksi bersama untuk memberikan energi serta kekuatan yang lebih baik.

Mari kembali sama-sama menguatkan iman kembali kepada sang Pencipta dengan penuh keyakinan sehingga terjawab bahwa apa arti hidup yang sesungguhnya. Bukan hanya doa yang diucapkan, tapi juga dalam ketulusan menerima. 

Sebab kesehatan mental sejati bukan hanya tentang pikiran yang warah, melainkan tentang hati yang damai, penuh syukur. 

Di saat dunia semakin bising, yang paling menyembuhkan adalah kembali kepada kesunyian iman tempat dimana jiwa akhirnya bisa pulang.(*)

*) PENULIS adalah Sahabat Saksi dan Korban wilayah Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved