KUPI BEUNGOH
Manusia, Predator Tanpa Taring
Manusia terbukti menjadi predator paling menakutkan di muka bumi, bukan karena taring atau cakar, tapi karena akal yang kehilangan nurani
Oleh: Rustami, ST*)
SERAMBINEWS.COM - Manusia terbukti menjadi predator paling menakutkan di muka bumi, bukan karena taring atau cakar, tapi karena akal yang kehilangan nurani.
Ia tidak menerkam dengan gigi, tapi dengan logika; tidak melukai dengan kuku, melainkan dengan kebijakan.
Sementara hewan berburu karena lapar, manusia berburu karena tamak.
Kita memang makhluk istimewa. Saking istimewanya, kita merasa berhak mengatur segalanya, dari bantuan sosial, harga minyak, sampai nasib ikan di laut.
Di setiap jengkal bumi, manusia hadir bukan sekadar sebagai penghuni, tapi sebagai penakluk.
Baca juga: Mualem Ultimatum Tambang Ilegal, Minta Tarik Semua Alat Berat dalam Hutan dalam 2 Minggu
Hutan dianggap lahan kosong, laut disebut potensi, dan gunung disamakan dengan tambang yang belum digali.
Zaman sekarang, kata eksplorasi terdengar gagah. Tapi saudaranya, eksploitasi, diam-diam menunggu di balik meja rapat.
Segala yang hidup, dari burung di langit sampai belut di lumpur, dijelajahi tanpa henti dan diperas tanpa ampun. Lalu kita menepuk dada, bangga menyebut diri sebagai “agen pembangunan”, padahal sering kali, kita cuma makelar perusakan.
Baca juga: Nurul Husna dari UIN Ar-Raniry Ungkap Pemicu Meningkatnya Jumlah Penderita HIV/AIDS di Aceh
Kekaguman terhadap alam berubah menjadi keserakahan terhadap sumber daya.
Hutan tropis dijadikan angka ekonomi, terumbu karang dijadikan statistik devisa, sungai dijadikan tempat cuci dosa industri tambang yang katanya berizin.
Hubungan dengan bumi yang seharusnya saling menjaga berubah menjadi hubungan majikan dan budak.
Kita tidak lagi bertanya bagaimana hidup berdampingan, tapi “berapa ton hasilnya per hektar?”
Ironis, di negeri yang katanya religius ini, doa sering berdiri sejajar dengan alat berat.
Sebelum menebang hutan, kita berdoa agar rezeki lancar. Sebelum menambang gunung, kita potong kambing agar selamat.
Lalu setelah banjir datang, kita marah pada langit, padahal yang mencetak undangan hanyalah kita sendiri.
Kini, ketika satwa liar berlari ketakutan hanya karena mendengar langkah manusia, itu bukan kebetulan.
Mereka sedang memberi peringatan sunyi bahwa manusia bukan lagi penjaga bumi, melainkan ancaman terbesar bagi bumi itu sendiri.
Seekor harimau hanya membunuh karena lapar, tapi manusia bisa membunuh hanya karena harga naik seribu perak.
Baca juga: Langgar Ultimatum soal Tambang Ilegal di Aceh, Mualem Tegaskan Ada Sanksi
Dan lihatlah, di balik angka ekonomi yang gemilang, ada statistik kemanusiaan yang gelap.
Kita membangun gedung setinggi langit, tapi merobohkan rasa malu di dasar hati.
Di kota besar, manusia tak lagi sekadar mencari nafkah, tapi memburu satu sama lain. Saingan mencari makan berubah jadi pembunuhan.
Warisan rumah orang tua bisa jadi medan perang antar saudara.
Manusia menjual segalanya untuk bertahan hidup. Menjual tubuh untuk bertahan, menjual organ untuk melunasi utang, bahkan menjual harga diri demi gawai yang logo buahnya digigit tupai.
Kita memberi semua itu nama yang terdengar manis, ekonomi kreatif, pasar bebas, surplus tenaga kerja, padahal isinya tetap sama: kanibalisme modern.
Baca juga: Inflasi: Pencuri yang tak Pernah Ditangkap
Kita memang tidak lagi saling makan secara harfiah, tapi cara kita memperlakukan sesama sering lebih kejam dari itu.
Di jalanan, orang miskin jadi tontonan. Di media sosial, kesedihan jadi hiburan.
Di ruang rapat, nasib rakyat diringkas dalam poin “efisiensi”. Manusia berubah jadi angka, dan angka tidak punya hak untuk menangis.
Hampir benar kata seorang profesor yang pernah ngopi denganku di Kompelma.
Katanya, manusia modern punya dua wajah: yang satu tersenyum di depan kamera, yang satu lagi menggenggam pisau di belakang meja.
Dunia berubah, tapi wajah itu masih sama, cuma kini tersenyum lewat filter.
Makhluk yang paling menakutkan di bumi
Kita memuja teknologi seperti nabi baru. Padahal kadang ia hanya mempercepat kebodohan yang sudah ada.
Dengan ponsel di tangan, manusia bisa menulis puisi sekaligus menyebar fitnah dalam satu detik.
Bisa bicara tentang cinta sambil menertawakan tragedi orang lain. Dunia jadi lebih kecil, tapi hati kita tidak ikut membesar.
Mungkin itu sebabnya manusia diciptakan dari tanah, agar suatu hari ingat untuk kembali ke tanah.
Tapi sekarang, manusia bahkan takut kotor. Kita lebih suka menyentuh layar ponsel ketimbang tanah, lebih suka menanam saham ketimbang menanam pohon.
Maka ketika bumi makin panas, air makin tinggi, udara makin sesak, itu bukan kiamat. Itu cermin.
Baca juga: Tambang Aceh untuk siapa?
Setiap kali bencana datang, kita panik. Kita menyalahkan langit, menyalahkan pemerintah, menyalahkan tetangga.
Padahal pelakunya sudah jelas, manusia dengan segala kesombongan progresnya.
Tak perlu meteor jatuh. Cukup satu proyek besar tanpa etika, dan kiamat kecil lahir di kampung sebelah.
Sebagian mungkin berkata, “Tidak semua manusia begitu.” Betul. Tapi cukup sebagian saja yang rakus untuk menjerumuskan semuanya.
Seekor ikan busuk cukup membuat satu ember air berbau.
Begitulah peradaban, yang jahat sedikit, tapi kerusakannya kolektif.
Baca juga: Bupati Pidie Usulkan Tambang di Geumpang, Mane dan Tangse Ditetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat
Namun di antara reruntuhan ini, harapan belum punah. Masih ada petani yang menanam tanpa meracuni tanah, nelayan yang menangkap ikan tanpa jaring raksasa, guru yang menanam ilmu tanpa pamrih.
Mereka inilah sisa-sisa manusia yang masih punya malu kepada bumi.
Karena pada akhirnya, planet ini tidak butuh manusia. Justru manusialah yang butuh planet ini.
Jika es mencair, hutan habis, laut asam, bumi tetap berputar. Hanya manusia yang berhenti.
Maka sebelum kita benar-benar punah oleh tangan sendiri, berhentilah sebentar.
Letakkan alat berat, matikan mesin, dengarkan suara daun yang bergesekan, ombak yang memukul pantai, suara yang dulu kita sebut “alam” sebelum kita menggantinya dengan kata “lahan.”
Baca juga: Membaca Kearifan Tambang dalam Hadih Maja dan Syair Langgolek
Dan mungkin, saat semua sunyi, baru kita sadar:
Yang paling menakutkan di muka bumi ini bukan singa, bukan ular, bukan hiu,
melainkan makhluk yang bisa menulis puisi tentang cinta sambil menghitung laba dari penderitaan sesamanya, manusia itu sendiri.
*) PENULIS adalah Pengamat Kebijakan Publik
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rustami-ST_Pengamat-Kebijakan-Publik_.jpg)