Minggu, 24 Mei 2026

Kupi Beungoh

Meugang ASUH, Ibadah Nyaman

Tersedianya daging Meugang ASUH adalah wujud dari kesadaran dan kepedulian pemerintah dan penjual daging dalam menyediakan kebutuhan masyarakat

Tayang:
Editor: Yeni Hardika
for serambinews
Azhar Abdullah Panton, pemerhati masalah kesehatan masyarakat veteriner. 

Namun, karena keterbatasan jumlah RPHR dan petugas, tentu tidak semua bisa terjangkau.

Karena itu sosialisasi dan edukasi untuk penjual daging Meugang perlu dilakukan.

Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan sistem jaminan keamanan pangan.

Pengetahuan terhadap keamanan pangan (food safety), penularan penyakit asal hewan melalui hewan atau produk asal hewan (zoonosis), kesejahteraan hewan (animal welfare) dan penanganan lingkungan harus ditingkatkan.

Dengan demikian penjual daging Meugang diharapkan berkomitmen dalam menghasilkan daging yang memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). 

Aman

Bermakna tidak mengandung bahaya biologis (bakteri, virus, parasit, jamur dan lain-lain). Bahaya kimiawi (residu obat-obatan, hormon, logam berat, dan lain-lain).

Bahaya fisik (serpihan kayu, kaca, tulang, dan lain-lain). Juga bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. 

Daging yang tidak aman bisa berasal dari hewan sakit, hewan dalam pengobatan, atau hewan yang keracunan.

Daging yang berasal dari hewan tersebut berbahaya bila dimakan, karena bisa menimbulkan reaksi alergi, menimbulkan resistensi bakteri, atau keracunan yang mengakibatkan gangguan pembentukan darah, gangguan fungsi ginjal, hati, dan gangguan metabolisme lainnya.

Bakteri yang berkembang dalam daging merupakan penyebab utama penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui makanan (foodborne disease), misal Salmonella sp., Bacillus anthracis, Mycobacterium tuberculose, dan Brucella abortus.

Baca juga: APBA 2026 dan Tanggung Jawab Politik Ketua DPRA

Sehat 

Mengandung bahan-bahan yang dapat menyehatkan manusia.

Sebagaimana diketahui daging adalah bahan makanan bergizi tinggi yang sangat dibutuhkan manusia.

Namun zat-zat gizi ini bisa rusak bila daging mengalami proses pembusukan. 

Daging busuk dapat dikenali melalui perubahan warna dan fisik daging (organoleptik), dan bau (H2S dan amonia). 

Pembusukan daging bisa diakibatkan oleh aktivitas enzim-enzim dalam daging (autolisis), kimiawi (oksidasi) dan mikroorganisme (Lukman, D.W., 2010).

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved